Desa Wisata Kita: Megah di Data, Merana di Lapangan
Ironi Eskalator dan Pematang Sawah: Saat Mall Lebih Menawan dari Otentisitas Desa Wisata.-Nanobanana2-Nanobanana2
Kedua, kurasi pengalaman. Tidak semua desa harus jadi destinasi wisata. Pilih yang punya cerita kuat, lalu dampingi secara total. Ketiga, kolaborasi. Kenapa tidak ada paket Ngemall di Tunjungan, Nginep di Desa Wonosalam, untuk pasar WFH dan family trip?
Mall ramai karena ia mengerti manusia kota: cari hiburan instan tanpa risiko. Jika desa wisata ingin ramai, ia harus mengerti hal yang sama, lalu menawarkan sesuatu yang mall tidak punya: makna.
Sebab pariwisata tidak sekadar memindahkan orang, tapi memindahkan hati. Dan hari ini, hati itu masih lebih betah di dalam mall ber-AC daripada di saung tepi sawah yang gerah. Tugas kita bukan menyalahkan, tapi menjawab kenapa.
*) Kepala Program Studi Kepariwisataan Universitas 45 Surabaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: