Termul
ILUSTRASI Termul.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
JK membuat pernyataan terbuka setelah muncul tudingan bahwa JK membiayai aktivitas perburuan ijazah palsu Jokowi. Dalam sebuah jumpa pers, JK terlihat berapi-api membantah tudingan tersebut. Pada saat itulah JK menyebut istilah ”termul”, yang merujuk kepada para pendukung die hard Jokowi.
Konflik JK vs Jokowi menjadi terbuka. JK mengungkit perannya dalam proses Pilpres 2014 yang dimenangkan Jokowi. JK mengungkit bahwa ia adalah orang yang punya peran dalam kemenangan Jokowi.
Dikonfrontasi media, Jokowi menghindar dengan gaya yang sudah menjadi ”trademark”. Bukannya menjawab substansi, Jokowi mengatakan bahwa ia hanyalah orang kampung, bukan siapa-siapa.
Gaya bahasa Jokowi itu sudah familier bagi publik. Dulu, ketika dikritik karena dianggap ”ndeso” dan ”plonga-plongo”, Jokowi menjawab dengan ucapan, ”aku ora opo-opo”.
Jawaban di luar konteks itu justru membuat Jokowi makin populer sebagai presiden yang merakyat. Sebaliknya, para pengkritiknya malah tersudut karena terkesan arogan.
Gaya komunikasi politik Jokowi tersebut disorot Marcus Mietzner dalam buku terbarunya, Ruling Indonesia: Jokowi’s Presidency in an Age of Democratic Crisis and Great Power Competition (2026). Jokowi sengaja menjaga penampilannya yang ndeso karena tahu persis bahwa tampilan itulah yang disukai publik.
Cara itulah yang dipakai Jokowi untuk memupuk dan mempertahankan popularitasnya. Selama 10 tahun menjabat presiden, Jokowi mengandalkan popularitasnya sebagai senjata utama untuk menghadapi kawan dan lawan.
Sebagaimana tersurat dalam judul buku itu, Mietzner menyebut Jokowi memainkan politik ala Machiavelli. Ia disebut sebagai ”Machiavelli Jawa”, dan pada kesempatan lain disebut sebagai Machiavelli yang cerdik.
Dalam karier politiknya, Jokowi mengalami ups and downs dengan partner dan pendukung politiknya. Salah satu yang paling menonjol adalah retaknya hubungan dengan Megawati.
Selama menjadi presiden, Jokowi disebut sebagai petugas partai oleh Megawati. Namun, Jokowi tidak sepenuhnya mau dikendalikan Megawati. Bahkan, pada akhirnya hubungan itu putus karena Jokowi menolak Ganjar Pranowo sebagai calon presiden.
Jokowi mencalonkan Prabowo Subianto, kemudian memasangkannya dengan anak sulungnya, Gibran Rakabuming Raka. Perpecahan Jokowi dengan Mega itu berlangsung sampai sekarang, dan tidak akan bisa direparasi atau direkonsiliasikan.
Mietzner menyebut Jokowi sebagai satu-satunya presiden yang masih mempertahankan pengaruh dan kekuasaannya pascalengser. Mantan presiden sebelumnya bisa lengser keprabon dengan damai dan tidak lagi cawe-cawe dalam proses pilpres.
Melihat rekam jejak Jokowi, tidak mengherankan kalau sekarang muncul friksi dengan JK. Ketika Prabowo Subianto (eks pemimpin ”kampret”) bergabung ke kabinet Jokowi dan kemudian memenangkan Pilpres 2024 dengan Gibran Rakabuming Raka, narasi ”cebong” dan ”kampret” secara formal dianggap berakhir lewat rekonsiliasi elite.
Namun, JK tetap berada di posisi kritis. Bagi JK, penggabungan seluruh kekuatan politik menjadi satu gerbong ”mulus” justru berbahaya.
Konflik ini bukan lagi soal cebong lawan kampret di jalanan, melainkan soal bagaimana kekuasaan dikelola. JK merepresentasikan kelompok yang menginginkan kembalinya dialektika politik yang sehat, sedangkan kubu Jokowi ingin melanjutkan kekuasaan melalui politik dinasti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: