Healing Staf Perpustakaan Universitas Airlangga (3-Habis): Pelepasan Staf Perpustakaan yang Purnatugas
ACARA pelepasan purnatugas dua staf Perpustakaan Universitas Airlangga digelar di Nglaras Rasa, sebuah resto etnik yang menawarkan makanan khas Nusantara. -Rahma Sugihartati untuk Harian Disway-
Bagi sebagian orang, penurunan gaji yang diterima pensiunan PNS itu langsung maupun tidak langsung akan memaksa perubahan gaya hidup yang terkadang cukup drastis. Tagihan listrik, biaya kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari tetap berjalan, sedangkan pemasukan menyusut.
Diakui atau tidak, justru di usia pensiun kebutuhan kesehatan meningkat sehingga pengeluaran cenderung naik. Banyak pensiunan yang akhirnya mengandalkan tabungan, menjual aset, atau mencari pekerjaan sampingan.
Selama bekerja, PNS niscaya terbiasa dengan ritme kerja yang padat: mulai berangkat pagi, mengisi presensi, rapat, menyusun laporan, hingga menghadiri acara resmi.
Bagi staf perpustakaan atau pustakawan, mereka setiap hari tentu harus berhadapan dengan bacaan, melayani mahasiswa dan dosen yang meminjam koleksi perpustakaan, dan lain sebagainya. Saat pensiun, semua rutinitas itu tentu hilang seketika.
Bagi pensiunan yang tidak menyiapkan aktivitas pengganti, hari-hari pascapensiun bukan tidak mungkin akan terasa hampa. Perubahan ritme kerja dari sibuk menjadi banyak waktu luang itu, bila tidak dikelola dengan hati-hati, niscaya akan menimbulkan munculnya rasa bosan, bahkan dapat berujung pada stres, depresi, atau bahkan masalah kesehatan fisik.
Beberapa pensiunan yang kreatif biasanya mencoba mengisi waktu dengan berkebun, bekerja alternatif, usaha sendiri, atau aktif di organisasi sosial. Namun, tidak semua pensiunan siap dan memiliki akses atau motivasi untuk itu. Pada titik itulah, seorang PNS yang pensiunan akan dihadapkan pada berbagai tantangan baru yang tidak ringan.
Pengalaman selama ini telah banyak membuktikan bahwa usia pensiun biasanya bertepatan dengan fase menurunnya kondisi fisik. Memasuki usia kepala enam, orang menjadi lebih mudah sakit.
Penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, atau masalah sendi mulai muncul. Selain itu, kesehatan mental menjadi ancaman tersendiri. Perasaan kesepian, tidak berguna, atau cemas tentang masa depan dapat memicu depresi.
Dalam berbagai kasus, tidak sedikit pensiunan PNS yang terlalu fokus pada pekerjaan selama bertugas hingga lupa menyiapkan berbagai hal sebelum memasuki masa pensiun. Investasi, usaha sampingan, atau keterampilan baru sering diabaikan. Bahkan, untuk kegiatan sosial pun tidak dipersiapkan.
Akibatnya, mereka kaget ketika tiba-tiba harus memasuki usia purnatugas. Bagi pensiunan PNS yang siap menghadapi masa depan, ketika memasuki usia pensiun, mereka bisa menjadikan hal itu sebagai kesempatan untuk memulai ”karier kedua” yang lebih fleksibel.
Namun, persoalannya adalah seberapa banyak seorang PNS mempersiapkan masa pensiunnya dengan tabah dan kreatif?
KOLEGA SEUMUR HIDUP
Di Indonesia, berbagai masalah yang dihadapi para pensiunan PNS sesungguhnya tidak hanya bersumber dari faktor kesiapan individu, tetapi juga dari sistem. Skema pensiun di Indonesia masih mengandalkan model pay-as-you-go, di mana dana pensiun dibayarkan dari APBN/APBD tahun berjalan.
Model seperti itu harus diakui sangat rentan terhadap tekanan fiskal. Bahkan, ada pejabat yang mengatakan bahwa membayar pensiunan adalah beban tersendiri yang memberatkan APBN kita. Pejabat seperti itu tentu lupa perjuangan dan pengabdian PNS selama masa mereka masih aktif.
Agar tidak makin terpuruk dan bingung ketika pensiun, kesiapan dan perencanaan adalah kunci agar PNS yang pensiun tidak kebingungan. Menggelar acara pelepasan staf yang pensiun, yang terpenting bukan pada kado apa yang kita berikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: