Sinergi Mengawal Revitalisasi Sekolah

Sinergi Mengawal Revitalisasi Sekolah

ILUSTRASI Sinergi Mengawal Revitalisasi Sekolah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

PADA 2026 ini Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggulirkan program revitalisasi sekolah dengan sasaran lebih dari 11.000 satuan pendidikan. Periode ini merupakan tahun kedua pelaksanaan program revitalisasi sekolah. Program itu diperuntukkan sekolah negeri dan swasta. 

Revitalisasi sekolah dapat berupa program rehab sekolah disebabkan kondisi bangunan sudah termasuk kategori rusak berat, sedang, atau ringan. Revitalisasi sekolah juga dapat digunakan untuk membangun ruang kelas baru, ruang perpustakaan, ruang kesehatan, ruang laboratorium, tempat ibadah, lapangan olahraga, toilet, dan sarana prasana sekolah lainnya. 

Pada tahap awal, sasaran utama program revitalisasi adalah sekolah yang berada di daerah bencana alam. Daerah bencana menjadi prioritas karena mayoritas bangunan sekolah tergolong rusak berat. Bahkan, di antara sekolah ada yang hilang akibat diterjang banjir bandang dan tanah longsor. 

BACA JUGA:Menakar Urgensi MBG atau Subsidi Pendidikan pada Sekolah Dasar, Menengah, dan Tinggi

BACA JUGA:Bangku Sekolah dan Pena Kemiskinan

Jika kondisi itu tidak segera diatasi, pasti berdampak pada keberlanjutan pendidikan anak-anak. Dampaknya, anak-anak akan kehilangan kesempatan belajar dalam waktu lama. Padahal, dalam banyak kesempatan, semua elemen bangsa memimpikan terwujudnya generasi emas 2045. 

Sasaran program revitalisasi berikutnya adalah sekolah yang berada di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Wilayah 3T menjadi prioritas untuk memperpendek kesenjangan layanan mutu pendidikan antar daerah. Seperti diketahui, salah satu standar yang penting dipenuhi dalam mewujudkan pendidikan bermutu adalah sarana prasarana sekolah.

Dengan bangunan fasilitas pendidikan yang memadai, anak-anak diharapkan dapat belajar dengan tenang, aman, dan nyaman. Kondisi itu sejalan dengan salah satu tagline Kemendikdasmen, yakni menjadikan sekolah sebagai ”rumah kedua” bagi anak-anak. Rumah pertama anak-anak tentu saja adalah tempat tinggalnya bersama orang tua dan keluarga.

BACA JUGA:Revitalisasi Sekolah untuk Pendidikan Menumbuhkan

BACA JUGA:Seragam dan Seragaman, Polemik Baju Seragam Anak Sekolah

Begitu pentingnya layanan pendidikan yang bermutu di bidang sarana prasarana, Presiden Prabowo Subianto berkomitmen untuk menambah jumlah sekolah penerima program revitalisasi sebanyak 60.000 satuan pendidikan. Hal itu berarti penerima manfaat program revitalisasi sekolah pada tahun ini mencapai lebih dari 71.000 satuan pendidikan. 

Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya menjadikan sekolah sebagai pusat layanan pendidikan yang ASRI [Aman, Sehat, Resik (bersih), dan Indah]. Seperti pada 2025, mekanisme penerimaan bantuan revitalisasi dilakukan melalui transfer langsung ke rekening sekolah. Terobosan itu memberikan pembelajaran bahwa birokrasi tidak seharusnya dimaknai serba-birokratis.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa sebagai abdi negara, seorang birokrat seharusnya mengedepankan prinsip melayani. Dalam perspektif agama, melayani juga bernilai ibadah. Karena itulah, seorang birokrat tidak boleh terjebak dalam sistem birokrasi yang kaku, berbelit, ”lelet”, dan tidak responsif. 

Pada konteks itulah, seorang birokrat tidak boleh berpikiran, ”jika bisa diperlambat, mengapa harus dipercepat”. Ungkapan itu harus diubah dengan prinsip melayani: ”jika bisa dipercepat, mengapa mesti diperlambat”. Spirit itu penting menjadi standar abdi negara dalam melayani masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: