Kisah Haru Tim Basarnas Saat Mengevakuasi Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
Kisah haru dari petugas Basarnas saat evakuasi korban tabrakan kereta di Bekasi Timur.-Disway.id/Cahyono-
BEKASI, HARIAN DISWAY - Seorang anggota Basarnas membagikan kisah di balik perjuangannya ketika menjalankan evakuasi korban kecelakaan kereta api yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur.
Peristiwa tersebut diketahui berlangsung pada Senin malam, 27 April 2026 sekitar pukul 20.30 WIB, saat KRL Commuter Line bertabrakan dengan kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek.
Laporan darurat mengenai kejadian itu pertama kali diterima oleh Ryan Christian, salah satu personel Basarnas DKI Jakarta.
Setelah menerima informasi tersebut, Ryan bersama tim dari Unit Siaga SAR Bekasi langsung bergerak cepat menuju lokasi insiden.
"Yang terlintas di pikiran kami, kami harus segera merespons. Kami harus segera mempersiapkan peralatan berat untuk mengevakuasi korban di kondisi yang sangat crowded," ucap Ryan di stasiun Bekasi Timur dikutip disway.id.
BACA JUGA:Kasus Kecelakaan KRL Bekasi Naik Penyidikan, 24 Saksi Diperiksa Termasuk Masinis
BACA JUGA:KRL Bekasi Timur–Cikarang Ditargetkan Beroperasi Siang Ini, Tunggu Izin KNKT
Ketika tiba di lokasi kejadian, akses masuk harus ditembus oleh tim gabungan karena area sekitar stasiun sudah dipadati warga.
Begitu berhasil masuk ke titik insiden, Ryan bersama personel lain langsung menghadapi kondisi sulit, mulai dari gerbong yang hancur, suara panik yang bersahutan, hingga ruang yang sangat sempit untuk bergerak.
Situasi itu tidak menggoyahkan fokusnya. Ia tetap bertahan meski harus bekerja dengan oksigen terbatas sambil mengoperasikan alat pemotong logam yang berat. Proses evakuasi sendiri berlangsung lama, sekitar 12 jam, karena kondisi di lapangan yang kompleks.
Dalam situasi itu, Ryan mengaku merasakan tekanan besar akibat keputusan yang harus diambil dengan cepat. Korban yang masih hidup menjadi prioritas utama, walau dalam banyak kasus posisi mereka terjepit bersama korban yang sudah meninggal.
BACA JUGA:Korban Meninggal Kecelakaan KRL Bekasi Bertambah Jadi 15 Orang, 91 Lainnya Luka-Luka
BACA JUGA:Wacana Pindah Gerbong Perempuan KRL, Respons AHY: Ini Bukan soal Laki dan Perempuan
"Kami keluarkan dulu yang MD (meninggal dunia), baru kita keluarkan yang dalam kondisi selamat. Kami harus tetap fokus berpikir bagaimana agar bisa segera mengeluarkan mereka," katanya.
Ryan juga mengalami momen yang terus melekat dalam ingatannya, ketika seorang penyintas yang menahan rasa sakit memintanya menyerahkan sebuah tas kepada keluarganya.
"Ada satu korban yang sempat bilang, 'Tolong Pak, kasihkan tas saya ini ke suami saya, suami saya ada di tangga," Imbuh Ryan
BACA JUGA:KAI Tanggung Biaya Korban Tabrakan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek, 14 Tewas dan 84 Luka
BACA JUGA:Profil Pemilik Green SM, Taksi Listrik Vietnam yang Diduga Picu Tabrakan KRL dan KA Argo Bromo
Ucapan itu langsung menyentuh Ryan. Ia melihat sendiri perjuangan seorang perempuan yang bertahan hidup, di tengah bau logam, debu pekat, dan udara yang sangat terbatas hingga emosinya tak terbendung.
Kalimat singkat tersebut menjadi pengingat kuat baginya, bahwa di setiap potongan besi yang ia buka, tersimpan harapan seorang istri untuk bisa kembali ke keluarganya.
Bagi Ryan, setiap nyawa yang berhasil diselamatkan adalah kemenangan kecil, di tengah tragedi besar yang akan terus membekas di Stasiun Bekasi Timur. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: disway.id