Ikorti Jatim dan Kendos Running Crew Edukasi Kesehatan Gigi di CFD Tunjungan
Reporter:
Salman Muhiddin|
Editor:
Salman Muhiddin|
Selasa 05-05-2026,12:02 WIB
IKORTI Jatim edukasi warga di CFD Tunjungan: Waspada bahaya behel instan demi senyum sehat Surabaya.-IKORTI-IKORTI
SURABAYA, HARIAN DISWAY - Tunjungan lagi cantik-cantiknya, Minggu, 3 Mei 2026. Orang-orang Surabaya tumpah ruah di Car Free Day (CFD). Ada yang jalan santai. Ada yang lari. Ada juga yang sekadar cari keringat sambil berburu sarapan.
Namun, bagi Ikatan Ortodontis Indonesia Pengurus Wilayah Jawa Timur (Ikorti Jatim), bugar saja belum cukup. Senyum juga harus rapi.
Mereka menggelar edukasi on the road di depan DoubleTree by Hilton. Tema serius dikemas dengan santai: Ayo Rapikan Gigi. Mereka menggandeng Kendos Running Crew.
Dr. Arya Brahmanta, Ketua Ikorti Jatim, turun langsung. Bahkan ada Prof. Dr. Endah Mardiati di sana. Para pakar ortodonti itu gelisah. Ada fenomena yang bikin mereka elus dada: behel instan.
Ikorti Jatim dan Kendos Running Crew Edukasi Kesehatan Gigi di CFD Tunjungan.-Ikorti Jatim-Ikorti Jatim
Saat ini, banyak orang ingin gaya, tetapi abai terhadap bahayanya. Pasang kawat gigi di mana saja. Asal murah. Asal kelihatan "pagar ayu".
Padahal, yang terpenting dari behel adalah fungsinya, bukan penampilannya. Kesehatan jangka panjang harus menjadi prioritas.
Gigi yang berantakan kalau dipaksa rapi oleh tangan yang salah, urusannya bisa panjang. Bukannya rata, malah bisa jadi penyakit.
IKORTI ingin meluruskan itu. Sambil lari, sambil edukasi. Bahwa sehat itu satu paket. Dari ujung kaki sampai ke susunan gigi.
Masyarakat diajak dialog. Konsultasi langsung dengan ahlinya. Tidak ada lagi cerita tentang tertipu oleh iklan behel abal-abal yang menjamur di media sosial.
Ikorti Jatim mengedukasi peserta CFD Tunjungan Surabaya.-Ikorti Jatim-Ikorti Jatim
Surabaya memang harus jadi pelopor. Masyarakatnya harus cerdas. Harus bijak memilih perawatan. Jangan sampai karena ingin senyum indah, malah jadi susah.
Olahraga itu penting. Gigi rapi itu pendukung. Keduanya butuh disiplin, dan tentu saja, butuh ahli yang benar.
Senyum yang sehat itu dimulai dari pemahaman yang benar. Bukan dari nekat yang berujung berantakan. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: