Haji: Kongres Politik Akbar Umat Islam Sepanjang Zaman
ILUSTRASI Haji: Kongres Politik Akbar Umat Islam Sepanjang Zaman.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Muktamar haji pascakonflik sesungguhnya menuntut agenda baru: rekonsiliasi antara negara-negara muslim, penguatan ekonomi halal sebagai counter-sanctions, dan pembangunan konsensus umat terhadap isu Palestina. Abdullah Azzam (dalam konteks solidaritas) dan Tariq Ramadan (dalam konteks integrasi global) sama-sama membaca haji sebagai ”reboot” tahunan kesadaran politik muslim.
”Haji adalah simfoni tahunan yang mengingatkan bahwa umat Islam adalah satu tubuh. Ketika satu anggota terluka, seluruh tubuh merasakannya.” (Yusuf Al-Qaradawi, Fiqh Al-Jihad)
Hikmah tertinggi haji sebagai gerakan politik adalah ini: ia memaksa umat untuk hadir secara fisik, melepaskan identitas kesukuan dan nasionalisme sempit, serta berdiri bersama sebagai ummatan wahidah. Dari Al-Arqam hingga Aqabah, dari Piagam Madinah hingga padang Arafah hari ini, arsitektur gerakan Rasulullah SAW masih berdenyut.
Pertanyaannya bukan apakah haji itu politis. Melainkan, seberapa serius umat hari ini mewarisi hikmah politiknya? (*)
*) Anang Fahmi, dosen UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: