Peringatan Sewindu Tragedi Bom 13 Mei: Toleransi Tumbuh, Tapi Luka Penyintas Masih Ada
PARA PEMUKA masing-masing agama hingga aliran penghayat berdoa bersama dalam peringatan Sewindu Bom 13 Mei di GKI Diponegoro pada Rabu, 13 Mei 2026.--Noventina Maria untuk Harian Disway
SURABAYA, HARIAN DISWAY - Peristiwa 13 Mei 2018 itu sulit dilupakan begitu saja. Bom bunuh diri mengguncang khusyuknya ibadah di tiga gereja pada Minggu pagi itu. Dalam hitungan menit, pagi yang hening di Surabaya menjadi kegemparan luar biasa.
Setiap tahun, tokoh lintas agama memperingati tragedi itu sembari menyemaikan perdamaian dan toleransi. Lewat aksi solidaritas, ibadah khusus, maupun renungan-renungan dan refleksi.
Sewindu berlalu. Gabungan organisasi lintas agama menggelar refleksi dan teatrikal untuk memperingati peristiwa kelam itu di GKI Diponegoro pada Rabu, 13 Mei 2026.
GKI Diponegoro menjadi salah satu rumah ibadah yang disasar pada 13 Mei 2018. Dua gereja lainnya adalah Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan.
BACA JUGA:Peringatan 7 Tahun Bom 13 Mei di Surabaya, 18 Pohon Ditanam untuk Pesan Toleransi
BACA JUGA:Memaknai Arti Toleransi dalam Peringatan Bom 13 Mei di Gereja Santa Maria Tak Bercela Surabaya

RANGKAIAN acara reflektif dalam peringatan Sewindu Bom 13 Mei pada Rabu malam, 13 Mei 2026, di GKI Diponegoro. --Noventina Maria untuk Harian Disway
Sedikitnya 150 orang menghadiri peringatan di gedung utama GKI Diponegoro. Rangkaian acara diawali dengan monolog reflektif lalu dilanjutkan teatrikal puisi.
Malam itu, para peserta diajak untuk berefleksi bersama, mengenang kejadian sewindu silam. Puncak acara adalah doa bersama oleh tokoh-tokoh agama Surabaya.
"Tujuan refleksi hari ini yang pertama adalah merawat ingatan. Kedua, merawat solidaritas karena peristiwa itu menimbulkan luka yang cukup dalam," ungkap Imanuel Erlangga, ketua pelaksana perwakilan Pemuda Katolik.
Angga, sapaannya, berharap luka-luka intoleransi itu bisa menumbuhkan solidaritas. Utamanya, dalam merawat harmonisasi lintas iman.
BACA JUGA:Merawat Ingatan, Merajut Harapan: Peringatan Peristiwa Iman Tragedi Bom 13 Mei Enam Tahun Silam
"Perdamaian bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Ia harus dirawat secara aktif, bersama-sama, dan terus-menerus," katanya kepada Harian Disway.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: