Kehangatan Pelukan Xi
ILUSTRASI Kehangatan Pelukan Xi.-Arya/AI-Harian Disway -
Sekitar 70 persen stok rudal dan peluncur bergerak mereka di 30 dari 33 pangkalan masih utuh. Serangan udara 28 Februari lalu tidak melumpuhkan Iran. Serangan itu malah membuat mereka lebih kreatif.
Inggris akhirnya ikut turun tangan. London mengirim kapal perusak HMS Dragon, jet tempur Typhoon, dan pesawat nirawak otonom pemburu ranjau. Armada sekutu itu datang tidak untuk perang tembak-menembak. Medan perangnya sudah pindah dimensi. Ini adalah perang alam gaib. Perang gelombang elektromagnetik.
Coba resapi angka mengerikan ini. Dalam tempo 24 jam saja, 470 kapal niaga raksasa kena prank massal. Sinyal satelit GPS mereka diacak-acak habis-habisan dari darat. Total, sejak perang dimulai, lebih dari 1.100 kapal menjadi korban.
Itu bukan jamming biasa. Itu spoofing, sebuah teknik pemalsuan sinyal. Kapal kargo seharga puluhan juta dolar tiba-tiba melompat ke posisi hantu di layar radar. Niatnya berlayar ke Dubai, tahu-tahu koordinat menunjukkan mereka berada di tengah gurun pasir Iran.
Layar navigasi kapten berubah total jadi barang rongsokan. Dalangnya sudah jelas: Korps Garda Revolusi Iran. Mereka menciptakan kabut perang elektronik. Kabut yang tidak bisa ditembus rudal Tomahawk. Kabut yang tidak bisa dihalau jet tempur F-35.
Di tengah ketegangan yang bikin jantungan itu, ada satu pemandangan ajaib. Rabu malam, sekitar 30 kapal kargo raksasa melenggang sangat santai. Aman. Nyaman. Sentosa. Layar radar navigasi mereka sangat jernih.
Armada speedboat IRGC yang biasanya galak malah minggir teratur. Memberikan jalan lapang layaknya menyambut rombongan tamu VIP. Kapal milik siapa gerangan? Tiongkok.
Kok bisa se-VIP itu tanpa hambatan? Jawabannya bukan pada rudal. Bukan pada kapal induk. Beijing cukup memakai satu jurus maut: pelukan ekonomi bertabur dolar. Sejak bertahun-tahun, saat negara-negara Barat sibuk menjatuhkan sanksi, Tiongkok memeluk erat Iran.
Mereka memborong minyak mentah Iran ratusan ribu barel per hari. Mereka menanamkan investasi puluhan miliar dolar untuk pelabuhan, rel kereta, dan infrastruktur strategis. Pelukan itu kini berubah wujud. Bertransformasi menjadi tameng perisai paling sakti di lautan lepas. Kapal Tiongkok otomatis dapat fasilitas bebas tilang.
Jepang rupanya tidak mau ketinggalan. Tokyo diam-diam menyontek jurus maut itu. Menteri luar negeri Jepang memutar nomor telepon jalur belakang. Diplomasi senyap, tanpa gembar-gembor media.
Hasilnya? Tepat hari ini, kapal kargo kedua mereka berhasil melintas tanpa membayar biaya tol sepeser pun. Itu bukti bahwa Iran tidak sedang menjalankan pemerasan acak. Mereka sedang membangun tatanan baru di Selat Hormuz: siapa yang berteman baik, silakan lewat. Siapa yang memusuhi, silakan terima risiko.
Bagi negara yang miskin lobi orang dalam, nasibnya tragis. Kapal Korea Selatan, HMM Namu, diserang dua objek terbang tak dikenal pada 4 Mei. Investigasi masih berlangsung hingga hari ini.
Kapal India, MSV Haj Ali, lebih tragis lagi. Pada 13 Mei lalu, kapal itu tenggelam di lepas pantai Oman setelah dihantam serangan.
Dunia sedang menyaksikan pertarungan tiga filosofi di atas pelat baja. Amerika Serikat dengan filosofi lama: kebebasan navigasi dijaga dengan kekuatan militer. Iran dengan filosofi asimetris: tidak perlu mengalahkan armada musuh, cukup ciptakan kekacauan yang dikelola rapi.
Tiongkok dengan filosofi paling ramah: tidak perlu kirim tentara, cukup peluk erat secara ekonomi. Maka, selat yang macet bagi semua orang akan terbuka lebar bagi kita.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: