Rupiah Terus Melemah, Gubernur BI: Akan Menguat Kembali pada Juli 2026

Rupiah Terus Melemah, Gubernur BI: Akan Menguat Kembali pada Juli 2026

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan optimismenya terhadap prospek nilai tukar rupiah-Dok. Setpres-

JAKARTA, HARIAN DISWAY — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang belakangan mengalami tekanan dinilai masih memiliki ruang untuk kembali menguat dalam beberapa bulan ke depan.

Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) kompak menyatakan bahwa pelemahan yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek dan faktor musiman, bukan karena persoalan fundamental ekonomi domestik.

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak perlu disikapi secara berlebihan lantaran kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik. Saat ini, pemerintah memilih fokus menjaga fondasi ekonomi agar pertumbuhan tetap terjaga dengan baik.

“Nanti kita perbaiki. Sekarang fondasi ekonominya bagus, itu masalah sentimen jangka pendek. Jadi saya fokus jaga fondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu. Nanti kita juga akan masuk ke bond market mulai hari ini,” ujar Purbaya di Jakarta pada Senin, 18 Mei 2026.

BACA JUGA:Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Melemah, Budi Sulistyono Kanang: Warning Serius untuk Negeri

BACA JUGA:Rupiah Terancam Tembus Rp 18.000, Analis: Perlu Intervensi dan Pemangkasan Anggaran Non-Esensial

Purbaya menambahkan, sebagian sentimen negatif yang membayangi mata uang Garuda muncul karena adanya kekhawatiran bahwa kondisi saat ini menyerupai krisis moneter tahun 1997–1998. Namun, ia menilai situasi saat ini sangat berbeda dengan masa lalu.


Purbaya minta masyarakat jangan panik Rupiah anjlok--Anisha Aprilia

Pandangan senada disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Perry menjelaskan bahwa penguatan dolar AS terhadap rupiah saat ini sebagian besar dipicu oleh faktor musiman, sehingga tekanan terhadap rupiah diperkirakan hanya bersifat sementara.

“Penguatan dolar AS ini terjadi karena faktor demand, biasanya untuk kebutuhan jemaah haji, pembayaran deviden, pembayaran utang,” kata Perry di Gedung DPR RI, Senin, 18 Mei 2026.

Bank Indonesia meyakini tekanan tersebut akan mulai mereda pada semester kedua tahun ini. Berdasarkan pengalaman selama beberapa tahun terakhir, nilai tukar rupiah biasanya mulai menunjukkan tren penguatan pada periode Juli hingga September.

BACA JUGA:Rupiah Tembus Rp17.500 per USD, Purbaya: Nggak Perlu Panik, Nggak Sejelek 98!

BACA JUGA:Pengusaha Apresiasi Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Namun Peringatkan Melemahnya Rupiah

“Dari pengalaman, Juli-Agustus-September akan menguat dan kami meyakini akan kembali ke range 16.200–16.800 per dolar AS, sesuai asumsi makro di APBN,” tutur Perry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: