Thucydides Trap
ILUSTRASI Thucydides Trap.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Baginya, hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok hari ini menunjukkan pola yang sama.
Tiongkok tumbuh menjadi kekuatan ekonomi dan teknologi yang mampu menantang dominasi global Amerika. Beijing bukan lagi sekadar ”pabrik dunia”, melainkan telah berubah menjadi pesaing strategis Washington dalam kecerdasan buatan, semikonduktor, perdagangan global, energi, hingga pengaruh geopolitik di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Dan, seperti Sparta dalam kisah Yunani kuno, Amerika mulai melihat kebangkitan itu sebagai ancaman.
Di titik itulah ucapan Xi Jinping menjadi sangat penting. Ketika ia menyebut Thucydides Trap, Xi sebenarnya sedang menyampaikan kritik terselubung terhadap strategi Amerika yang makin agresif membendung Tiongkok.
Konteksnya jelas.
Amerika membatasi ekspor cip canggih ke Tiongkok, memperkuat aliansi militer di Indo-Pasifik, meningkatkan dukungan senjata untuk Taiwan, serta menjalankan perang dagang dan perang teknologi terhadap Beijing. Di sisi lain, Tiongkok mempercepat swasembada teknologi, memperkuat militernya, dan memperluas pengaruh ekonominya melalui Belt and Road Initiative.
Kedua negara sama-sama berbicara tentang stabilitas, tetapi diam-diam sedang mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan benturan besar.
Ironisnya, masing-masing merasa dirinya sedang bertahan.
Amerika menganggap Tiongkok ancaman terhadap ”international order”. Tiongkok menganggap Amerika berusaha menghalangi ”national rejuvenation” atau kebangkitan nasionalnya. Ketakutan satu pihak menjadi ancaman bagi pihak lain, lalu ancaman itu menciptakan ketakutan baru yang lebih besar.
Di sinilah Thucydides Trap bekerja.
Dan, mungkin sisi paling tajam dari teori itu adalah kenyataan bahwa perang besar sering tidak lahir dari niat menyerang, melainkan dari rasa takut kehilangan posisi dominan.
Lydia Polgreen dalam tulisannya di The New York Times bahkan menawarkan ironi yang lebih dalam. Ia berargumen bahwa mungkin justru Amerika sendiri yang sedang mendorong dunia masuk ke dalam Thucydides Trap (Polgreen, 2025).
Di bawah Donald Trump, Washington mulai mengguncang tatanan global yang selama ini dibangunnya sendiri. Aliansi lama dipertanyakan. Tarif perdagangan digunakan agresif. Institusi internasional dilemahkan. Politik luar negeri makin bergantung pada impuls personal dan rivalitas geopolitik.
Sementara itu, Tiongkok justru tampil lebih konsisten mempertahankan stabilitas ekonomi global dan perdagangan internasional.
Dalam pembalikan yang ironis, dunia mulai melihat sesuatu yang dulu sulit dibayangkan: bukan Tiongkok yang paling agresif merusak tatanan global, melainkan Amerika sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: