Thucydides Trap
ILUSTRASI Thucydides Trap.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Tentu saja Tiongkok bukan tanpa masalah. Beijing tetap negara otoriter dengan kontrol politik ketat, represi terhadap oposisi, dan tekanan terhadap Taiwan maupun Laut China Selatan. Namun, membaca Tiongkok semata sebagai ancaman global sering membuat dunia gagal memahami akar sebenarnya dari ketegangan hari ini: krisis transisi kekuasaan global.
Dan, sejarah menunjukkan bahwa momen seperti itu sangat berbahaya.
Thucydides memahami sesuatu yang tetap relevan lebih dari dua ribu tahun kemudian: negara besar jarang rela kehilangan dominasi dengan tenang. Mereka cenderung membendung, mencurigai, bahkan menyeret dunia ke konflik demi mempertahankan posisi hegemoniknya.
Sparta takut terhadap Athena. Inggris pernah takut terhadap Jerman. Amerika takut terhadap Uni Soviet. Dan hari ini, Amerika mulai takut terhadap Tiongkok.
Mungkin itulah sebabnya Xi Jinping terus mengulang istilah Thucydides Trap. Tidak semata untuk mengutip sejarah, tetapi untuk memperingatkan dunia bahwa ketakutan hegemon lama sering kali lebih berbahaya daripada ambisi kekuatan baru.
Dan, mungkin pertanyaan terbesar abad ke-21 bukan lagi apakah Tiongkok akan bangkit.
Melainkan apakah Amerika cukup siap menerima bahwa dunia tidak lagi hanya berputar di sekelilingnya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: