Marwah Rupiah
ILUSTRASI Marwah Rupiah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Pengalaman kecil seperti itu mungkin terdengar remeh. Namun, justru dalam peristiwa sederhana sehari-hari itulah watak sebuah kebudayaan sering terlihat paling jujur. Ada semacam rasa sungkan mengambil yang bukan haknya. Ada martabat yang dijaga. Bahkan, ketika hidup sedang susah.
Dalam perspektif antropologi, perilaku ekonomi masyarakat tidak pernah murni soal uang. Cara orang menerima pemberian, menentukan harga, hingga memperlakukan pelanggan dibentuk oleh sistem nilai yang diwariskan lama.
Kebudayaan Jawa, terutama tradisi Mataraman seperti Jogjakarta, sejak lama dibangun di atas etika kepantasan sosial. Orang boleh miskin, tetapi tidak boleh kehilangan ajining diri atau harga diri.
Menerima uang berlebih tanpa alasan yang pantas bagi sebagian orang Jawa lama dianggap ”ora ilok”. Tidak pantas. Bukan karena nominalnya besar atau kecil, melainkan karena ada batas moral antara rezeki dan mengambil kesempatan.
BACA JUGA:Redenominasi Rupiah, demi Gengsi atau Jalan Pintas Stabilitas Moneter?
BACA JUGA:Mengendus Sinyal Positif Penguatan Rupiah dari The Fed
Dalam sosiologi Pierre Bourdieu, nilai-nilai seperti itu lama-kelamaan berubah menjadi habitus. Kebiasaan sosial yang tertanam dalam alam bawah sadar masyarakat.
Orang bertindak jujur bukan semata karena takut hukum. Namun, karena lingkungan sosial membentuk kejujuran sebagai sesuatu yang normal dan bermartabat.
Jogja memiliki kekuatan mempertahankan habitus itu. Sebab, kebudayaannya masih hidup sebagai ekosistem sosial. Keraton bukan hanya bangunan wisata. Tetapi, juga pusat simbolis yang memproduksi nilai.
Tradisi unggah-ungguh, tepa salira, ewuh pekewuh, hingga falsafah hamemayu hayuning bawana masih menjadi rujukan etik dalam kehidupan sosial. Nilai-nilai itu masih terjaga di sebagian warganya hingga sekarang.
Di tengah budaya konsumsi yang makin agresif, Jogjakarta tampaknya sadar bahwa modal sosial seperti itu tidak bisa diwariskan secara otomatis. Karena itu, rencana Sri Sultan Hamengkubuwono X memasukkan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) ke sekolah menjadi sangat menarik.
BACA JUGA:Urgensi Konfigurasi Ulang Strategi Menghadapi Pelemahan Rupiah
BACA JUGA:Rupiah Digital: Mengubah Tradisi Bertransaksi
Banyak orang mengira pendidikan budaya hanya soal mengenakan pakaian adat atau belajar tari tradisional. Padahal, gagasan Sultan jauh lebih dalam. Yang ingin dijaga bukan sekadar simbol budaya. Tapi, juga watak sosial masyarakat Jogja.
Program Pendidikan Khas Kejogjaan merupakan upaya membangun manusia Jalma Kang Utama. Manusia yang unggul bukan hanya secara akademik. Tapi, juga matang secara moral dan sosial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: