Pecundang Pendidikan: Kisah Abadi Joki Seleksi PTN

Pecundang Pendidikan: Kisah Abadi Joki Seleksi PTN

Fenomena abadi joki ujian PTN: Pahlawan semu bagi konsumen, pecundang bagi pendidikan. -Nano Banana 2-Nano Banana 2

Praktik joki dalam ujian seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) bagaikan lingkaran setan. Bagi para pengguna jasanya, joki kerap dianggap sebagai pahlawan penyelamat masa depan. Namun bagi kualitas dunia pendidikan, keduanya adalah pecundang. Cerita mereka berulang dari dari Sipenmaru, UMPTN, SPMB, SNMPTN, SMBPTN sampai dengan SNBT.  

Sejak Sipenmaru (era tahun 1980 an) praktik joki sudah menyerupai mafia kecil-kecilan. Praktik joki masih berkembang seiring nama ujian seleksi PTN dan sistem yang berevolusi dari berbasis kertas ke komputer.

Cerita praktik Joki tidak ada habisnya. Up to date. Mengikuti perkembangan jaman terkait pola dan modus yang berlaku. Bahkan di hari pertama SNBT UTBK April 2026 dilaksanakan, sudah terungkap praktik joki di beberapa universitas ternama di Indonesia. 

Salah satu pengakuan joki mendapatkan imbalan ratusan juta rupiah jika klien bisa masuk Fakultas Kedokteran Gigi di salah satu PTN ternama.

Modus operandi praktik joki dipersiapkan nyaris sempurna sesuai dengan imbalan uang yang menggiurkan. Tidak dipungkiri, kecurangan itu dirancang dan dipersiapkan oleh orang cerdas manipulatif kearah negatif serta miskin akhlak.

Praktik Joki tidak akan pernah mati sepanjang ada permintaan. Supply and demand ini cukup menggiurkan diiringi kesanggupan membayar jasa, puluhan hingga ratusan juta rupiah. Mayoritas permintaan tersebut dari klien yang disebut orang tua calon mahasiswa.

BACA JUGA:Praktik Joki UTBK 2026 Mayoritas Incar Fakultas Kedokteran, Ketua SNPMB Buka Fakta Ini!

BACA JUGA:Joki Strava, Tren Baru di Balik Obsesi Pamer Performa Olahraga

Entah pikiran waras yang bagaimana yang ada di kepala orang tua calon mahasiswa yang menggunakan jasa joki tersebut. Semua orang tua ingin anaknya sukses di masa depan. Mendapat pendidikan bagus, lulus kuliah, bekerja atau menjadi pengusaha sukses. 

Lebih memprihatinkan lagi jika orang tua memaksakan anak untuk mengambil jurusan yang tidak sesuai dengan minat dan kemampuan anak. Orang tua berdalih, nanti lama-lama juga akan suka dan bisa mengikuti. Bersyukur kalau anak mampu, namun jika tidak mampu anak merasa putus asa, depresi, minder, nilai akademik hancur. 

Orang tua yang terlibat jasa joki memiliki pola perilaku yang menyimpang. Orang tua tidak menghormati proses pola pikir hanya ingin cara instan, memiliki tuntutan dan ambisi besar tanpa mempertimbangkan kemampuan anak. 

Orang tua yang menggunakan jasa joki sebenarnya sudah tahu bahwa sang anak tidak mampu masuk seleksi pada jurusan tersebut. Jika masuknya saja sudah tidak mampu, bagaimana anak akan menjalani kuliah tersebut sampai lulus. Alih-alih bisa lulus tepat waktu, bisa jadi droup out alias DO di tengah jalan. 

Orang tua seharusnya mengajari anak sebagai petarung bukan pecundang, yang terus fokus memantaskan diri serta menikmati proses perjuangan.  Orang tua harus mengajari dan membangun resilience anak.  

Resilience. Mampu bertarung. Mampu bertahan. Mampu bangkit setelah terpuruk. Mampu upgrade diri. Mampu menghadapi badai. Mampu tegak memandang dunia dengan optimism. Mampu mencari jalan keluar masalah.

BACA JUGA:Menilik Fenomena Bisnis Joki dalam Pendidikan Indonesia (4-Habis): Ragam Cara Dosen Deteksi dan Cegah Penjoki

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: