Mengenang Khazanah Intelektualisme Buya Syafii

Mengenang Khazanah Intelektualisme Buya Syafii

ILUSTRASI Mengenang Khazanah Intelektualisme Buya Syafii.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Kiprah Buya Syafii mendorong gerakan intelektualisme menemukan momentumnya tatkala menjadi ketua umum PP Muhammadiyah (1998–2005). Sejumlah intelektual muda Muhammadiyah lahir berkat sentuhan ideologis Buya Syafii. Mereka tergabung dalam JIMM. 

Tokoh-tokoh kunci JIMM aktif menyelenggarakan halaqah pemikiran keislaman di berbagai daerah. Sesekali Buya Syafii hadir untuk memberikan pencerahan dan inspirasi.

Harus diakui, Buya Syafii merupakan pelopor gerakan intelektualisme. Bukan hanya bagi kaum muda Muhammadiyah. Buya Syafii juga menginspirasi banyak intelektual muda dari Nahdlatul Ulama. Bahkan, tokoh-tokoh lintas agama kagum dengan konsistensi Buya Syafii untuk terus menulis, menulis, dan menulis. 

Dalam suatu kesempatan, Buya Syafii berpesan agar kaum muda menjaga keseimbangan dengan menampilkan diri sebagai aktivis sekaligus intelektual. 

Pesan itu disampaikan karena dalam amatan Buya Syafii, makin banyak kaum muda yang lebih berminat menjadi aktivis, terutama di dunia politik praktis daripada berjuang di ranah kultural. Dampaknya, terjadi peningkatan syahwat politik di kalangan kaum muda.  

Pelindung Kaum Muda

Bersama Moeslim Abdurrahman, Amin Abdullah, dan Din Syamsuddin, tampak sekali Buya Syafii telah menjadi guru terbaik bagi kaum muda Muhammadiyah. Kaum muda Muhammadiyah binaan Buya Syafii telah melahirkan banyak karya ilmiah dalam bentuk buku, artikel jurnal, atau opini di media massa. 

Meski terkadang buah pikiran mereka memicu perdebatan di kalangan internal atau eksternal Muhammadiyah, Buya Syafii selalu tampil di depan memberikan pembelaan. Buya Syafii benar-benar menjadi pelindung sekaligus penyemai spirit pembaruan (tajdid) pemikiran keislaman di kalangan kaum muda Muhammadiyah. 

Pada suatu kesempatan, Buya Syafii menyatakan bahwa anak-anak muda Muhammadiyah yang berpikiran aneh itu tetap menjadi muslim sejati. Hal tersebut karena mereka dalam kesehariannya masih menunaikan salat, berpuasa, dan mengaji Al-Qur’an dengan baik. Pembelaan Buya itu disampaikan untuk menjawab kritik sebagian aktivis dan pimpinan Muhammadiyah.   

Karena itulah, tidak mengherankan jika penghormatan intelektual muda Muhammadiyah yang berdiaspora di sejumlah lembaga begitu luar biasa kepada Buya Syafii. Hingga akhir hayatnya, Buya Syafii konsisten memilih jalan sebagai intelektual sejati sekaligus pejuang kemanusiaan. Tidak sekali pun Buya tergoda masuk ke dunia politik.

Sebagai ilmuwan dan aktivis sosial keagamaan, Buya Syafii dapat memosisikan diri sebagai guru bangsa yang nir-kepentingan pribadi. Tidak mengherankan jika dalam berbagai persoalan kebangsaan, pandangan Buya Syafii selalu menjadi rujukan. Buya Syafii seakan terus menyinari umat dan bangsa serta memberikan inspirasi kepada kaum muda. 

Sebagai tokoh besar, Buya Syafii juga tidak pernah silau dengan berbagai pujian. Menanggapi pujian itu, Buya mengatakan bahwa dirinya tidak sehebat yang dibayangkan banyak orang. Bahkan, ia merasa terlalu banyak umur yang tersia-sia karena terlambat dalam banyak segi. Begitulah keteladanan Buya yang selalu tampil apa adanya, tanpa basa-basi. 

Buya Syafii juga kerap tampil menjadi pembela kelompok minoritas. Buya Syafii menunjukkan keprihatinan mendalam terhadap berbagai insiden radikalisme bernuansa keagamaan. Berbagai insiden radikalisme bernuansa keagamaan yang disertai kasus bom bunuh diri juga tidak luput dari amatan Buya. 

Buya Syafii menyebut para pelaku bom bunuh diri itu sebagai penganut teologi maut. Mereka tergolong pengecut karena berani menghadapi kematian, tetapi takut dengan kehidupan. Mereka juga biadab karena merusak citra Islam. Padahal, Islam mengajarkan nilai-nilai kasih sayang, keselamatan, dan kedamaian. 

Pentingnya Multikulturalisme

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: