Mengenang Khazanah Intelektualisme Buya Syafii
ILUSTRASI Mengenang Khazanah Intelektualisme Buya Syafii.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
DALAM rangka memeringati bulan kelahiran dan kewafatan Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii), Maarif Institute dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) menggelar rangkaian kegiatan bertajuk Tadarus Pemikiran Ahmad Syafii Maarif, Menjaga Suluh Merawat Nurani Bangsa.
Agenda dihelat untuk mengenang pemikiran sang guru bangsa kelahiran Sumpur Kudus, Minangkabau, Buya Syafii (31 Mei 1935–27 Mei 2022).
Di mata anak-anak muda, terutama yang pernah bergabung dalam Maarif Institute dan JIMM, Buya Syafii merupakan guru ideologis sekaligus model intelektual sejati. Buya Syafii layaknya ”kompas moral” bagi bangsa.
Terma ”kompas moral” menggambarkan peran Buya tatkala menjadi penyeru (muazin) keprihatinan bangsa. Kritik Buya kepada elite bangsa begitu menghunjam, tetapi disampaikan dengan terhormat dan bermartabat.
BACA JUGA:Post Muhammadiyah Buya Syafii
BACA JUGA:Buya Syafii Maarif Berpulang, Sempat Tolak Jadi Wantimpres Jokowi
Buya Syafii juga meminta kepada kelompok kritikus agar membangun budaya politik yang lebih arif dan saling menghargai, tanpa mengurangi substansi kritik yang disampaikan. Sebagai intelektual sejati sekaligus guru bangsa, Buya dikenal sangat terbuka. Buya mampu berinteraksi dengan siapa pun sehingga radius pergaulannya nyaris tanpa batas.
Pelopor Gerakan Intelektualisme
Dalam sambutan pengantar untuk buku Mencari Negarawan: 85 Tahun Buya Ahmad Syafii Maarif (2021), Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan bahwa Buya merupakan sosok sederhana, berilmu, dan berwawasan luas, humanis, lugas, tetapi tetap santun. Buya sangat terbuka dan tampil apa adanya. Autentik dalam istilah Buya. Itulah yang membuat Buya egaliter dan demokratis.
Sebagai demokrat sejati, Buya Syafii mampu menjaga satunya kata dengan perbuatan. Buya juga senantiasa risau dengan kondisi bangsa yang melahirkan lebih banyak politikus daripada negarawan.
Sepulang Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, dan Buya Syafii ke haribaan Ilahi, bangsa ini belum banyak melahirkan negarawan. Negeri ini surplus politikus, tetapi minus negarawan.
Konsistensi Buya dalam menempuh jalan intelektual telah memantik kekaguman Quraish Shihab. Dalam suatu kesempatan bertemu dengan Buya, mufasir ternama itu mengatakan, ”mengetahui usia Buya Syafii, sudah sepatutnya beliau ini dicemburui banyak orang. Beliau tetap produktif dan menyumbangkan pikiran-pikirannya tanpa ragu sedikit pun dengan sudut pandangnya.”
Buya Syafii mampu menjaga nalar kritisnya melalui karya-karya berbobot yang diterbitkan penerbit ternama dalam dan luar negeri. Karena itu, tidak berlebihan jika dalam buku 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi (2014), Buya Syafii disebut sebagai sosok yang sangat besar pengaruhnya mendorong kebangkitan gerakan intelektualisme di kalangan kaum muda.
Menurut Buya Syafii, daya intelektualitas merupakan pintu gerbang memahami dan mengamalkan Islam secara kafah. Dalam buku 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi, Buya menegaskan bahwa kaum muda sebagai pelaku utama sejarah gerakan masa depan menjadi juru kunci cerah dan buramnya wajah intelektualisme Muhammadiyah dalam pergulatan dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: