Demokrasi dan Pengalaman Tiongkok

Demokrasi dan Pengalaman Tiongkok

NOVI BASUKI (kanan) dalam kuliah umum bertajuk Apa yang Salah dengan Demokrasi? di Universitas Ciputra, Surabaya, 16 Mei 2026. -Novi Basuki untuk Harian Disway.-

Musababnya setidaknya ada tiga dan berkelindan satu sama lain. Pertama, pemilih kita belum semuanya rasional lantaran tidak meratanya pendidikan dan perekonomian. Kedua, ongkos politik mahal sekali sehingga harus mengandalkan bohir atau oligarki. Ketiga, dan agaknya ini yang paling fatal, kaderisasi partai politik secara meritokratis hampir bisa dikata tidak ada. 

Padahal, yang berhak mengusulkan calon pemimpin untuk dipilih oleh pemilih kita yang tidak rasional dan berakibat pada membengkaknya ongkos politik yang dibohiri oligarki tadi adalah partai politik. 

Maka, tak heran bila Paul Collier dalam bukunya, Wars, Guns, and Votes: Democracy in Dangerous Places (2009), menyebut, di negara kaya seperti OECD, kemungkinan petahana terpilih kembali hanya 45 persen, sedangkan di negara miskin mencapai 74 persen sekalipun pada periode sebelumnya buruk kinerjanya.

Kalau sudah begini, benar apa yang dibilang pepatah Latin, ”corruptio optimi pessima”. Keburukan yang ditimbulkan oleh yang terbaik adalah yang terburuk. (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: