Menua dengan Berdaya, Mencari Solusi Alternatif bagi Lansia Indonesia
ILUSTRASI Menua dengan Berdaya, Mencari Solusi Alternatif bagi Lansia Indonesia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
MENJADI TUA sering kali dianalogikan seperti senja: indah, tetapi menyimpan kegelisahan tentang kegelapan yang akan datang. Di Indonesia, narasi tentang masa tua biasanya hanya berhenti pada dua kutub ekstrem: dirawat anak di rumah atau ”dipindahkan” ke panti jompo.
Padahal, menua adalah sebuah keniscayaan yang seharusnya bisa dijalani dengan kemandirian dan martabat, tanpa harus menyisakan rasa bersalah bagi generasi berikutnya.
Ledakan ”Silver Population” di Tanah Air
Indonesia tidak lagi sekadar ”menuju” penuaan penduduk. Kita sudah berada di dalamnya. Berdasar data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2026, proporsi penduduk lanjut usia di Indonesia telah menyentuh angka 11,97 persen.
Itu berarti, hampir 34 juta jiwa warga kita kini berusia di atas 60 tahun. Fenomena aging population itu terlihat sangat kontras di wilayah seperti DI Yogyakarta yang persentase lansianya mencapai 17,83 persen, diikuti Jawa Timur dan Bali.
BACA JUGA:Lansia, Mengapresiasi Kontribusinya bagi Masyarakat
BACA JUGA:Menjadi Lansia yang Bahagia
Lonjakan data itu bukan sekadar angka di atas kertas. Ia adalah alarm bagi kesiapan infrastruktur sosial kita. Pertanyaannya, sudahkah kita menyiapkan layanan hari tua bagi jutaan lansia itu agar mereka tetap berdaya atau kita masih terjebak pada romantisasi budaya masa lalu yang mungkin sudah mulai terkikis?
Antara Pilihan ”Ikut Anak” dan Beban Sandwich Generation
Secara tradisional, masyarakat Asia –termasuk Indonesia– memegang teguh budaya komunal. Merawat orang tua adalah bakti (filial piety) yang tak terbantahkan. Namun, realitas ekonomi abad ke-21 melahirkan fenomena sandwich generation.
Generasi produktif saat ini terjepit di tengah: harus membiayai pendidikan anak yang makin mahal sembari menanggung biaya hidup dan perawatan kesehatan orang tua yang sering kali sulit terjangkau.
Sering kali, opsi ”ikut anak” justru menjadi sumber stres baru. Bagi lansia, tinggal di rumah anak sering kali membuat mereka merasa menjadi ”tamu” atau beban. Mereka kehilangan privasi, ruang gerak, dan lingkaran sosial teman sebaya.
BACA JUGA:Lansia Bekerja, Strategi Organisasi atau Peduli?
BACA JUGA:Lansia di Pulogadung Ditembak Maling dan Analisis Kriminologi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: