Maling Berkedok Gizi

Maling Berkedok Gizi

ILUSTRASI Maling Berkedok Gizi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

ENTAHLAH. Kita harus malu atau harus bangga kepada Tyo Ardianto, ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) UGM (Universitas Gadjah Mada). Anak muda itu menjadi salah satu –atau satu-satunya– pengkritik program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang paling keras dan vokal.

Tyo mengkritik dengan sangat tajam program MBG yang dianggapnya tidak bermanfaat. Tyo menyorot tajam berbagai penyelewengan dalam program itu. Tyo berani terus terang mengatakan bahwa Ketua BGN (Badan Gizi Nasional) Dadan Hindayana seharusnya masuk penjara.

Tyo, tanpa takut, mengenakan kaus hitam dengan tulisan besar di dada ”Maling Berkedok Gizi”, memelesetkan kepanjangan MBG.

Tyo kuliah di Jogja, sangat akrab dengan budaya pelesetan Jogja. Tapi, kali ini bukan pelesetan yang bikin senyum. Pelesetan Tyo itu bisa bikin perut mulas.

BACA JUGA:Presiden Copot Dadan Hindayana, Nanik S Deyang Resmi Jabat Kepala Badan Gizi Nasional yang Baru

BACA JUGA:Jangkau 60 Juta Penerima, Prabowo Sebut Banyak Negara Pelajari Program Makanan Bergizi Gratis

Terbukti, kritik Tyo menemukan kebenarannya. Dadan Hindayana dan dua wakilnya, Sonny Sonjaya dan Lodewyk Pusung, digerebek Kejaksaan Agung di pagi buta, lalu digelandang dengan rompi merah muda dan tangan diborgol sebagai tersangka. 

Kasus korupsi tersebut bukan skandal. Itu tragedi. Bagaimana sebuah program yang dipertahankan Presiden Prabowo Subianto dengan segenap kemampuan yang ada ternyata keropos dan membusuk dari dalam. 

Sebuah program yang diharapkan menjadi ikon Prabowo. Sebuah program yang ingin dicatat sebagai legasi Prabowo ternyata remuk redam dari dalam. 

Sejak program itu diluncurkan, berbagai kritik keras bermunculan. Bermacam-macam laporan mengenai korupsi dan salah kelola bermunculan. Namun, Prabowo bergeming. Prabowo pasang badan.

Sampai akhirnya tiba di satu titik. Prabowo tidak bisa lagi mengelak dan harus menyerah. Ia dikhianati secara telanjang oleh orang yang ia beri kepercayaan menjalankan program andalannya. 

Prabowo mengaku sedih. Tapi, itu tidak cukup. Ia harus bertanggung jawab. Ia tidak bisa berlepas diri. Tragedi korupsi MBG itu menjadi tanggung jawab pribadinya. 

Prabowo harus mengakui kesalahan dan harus meminta maaf kepada publik. Prabowo harus mengakui bahwa, lagi-lagi, ia salah memilih orang.

Apa pun, Dadan Hindayana adalah pilihan Prabowo langsung. Tidak ada konsultasi dengan siapa pun. Prabowo melakukan handpick, memungut langsung Dadan dengan tangannya. Dan, Prabowo salah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: