IHSG Anjlok Diprediksi hingga Pekan Depan

IHSG Anjlok Diprediksi hingga Pekan Depan

Ilustrasi. Penutupan IHSG Sesi I terpantau melemah melemah sebanyak 147,63 poin atau setara dengan 2,53 persen ke level 5.692,16-Foto: Bianca/Disway.id-

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai menimbulkan efek domino di pasar keuangan nasional.

Setelah rupiah menembus level terlemah sepanjang sejarah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut terseret jatuh hingga menembus level 5.500 pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026.

IHSG ditutup merosot 245 poin atau 4,2 persen ke level 5.594,7. Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor. Sebanyak 656 saham ditutup melemah, hanya 115 saham yang menguat, sementara 188 saham lainnya stagnan.

BACA JUGA:IHSG Anjlok 2,5 Persen ke Level 5.692, Rupiah Rp18.033 per Dolar AS Jadi Pemicu Utama

BACA JUGA:IHSG Jatuh ke Level 5.000, Pakar Unair Soroti Mentalitas FOMO Investor Indonesia

Kondisi tersebut menunjukkan sentimen negatif yang masih mendominasi pasar. Investor memilih keluar dari aset berisiko di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan terhadap rupiah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Pengamat Instrumen Investasi Universitas Airlangga (Unair) Gagas Gayuh Aji menilai koreksi tajam tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh kinerja perusahaan yang memburuk. Menurutnya, faktor psikologis pasar justru menjadi penyebab utama ambruknya IHSG dalam beberapa pekan terakhir.

"Secara fundamental, emiten-emiten besar sebenarnya masih sangat baik. Tetapi pasar kita saat ini sangat dipengaruhi sentimen dan perilaku investor yang cenderung fear of missing out atau FOMO," ujarnya kepada Harian Disway, Jumat, 5 Juni 2026.

Jika dihitung sejak awal tahun, penurunan IHSG kini telah mencapai lebih dari 33 persen. Angka tersebut mulai mendekati kejatuhan pasar saat pandemi Covid-19 pada 2020.

BACA JUGA:IHSG Kena Imbas Rupiah Anjlok, Turun 4,11 Persen ke Level 5.941

BACA JUGA:IHSG Sempat Anjlok Parah ke Level Terendah, Analis IPOT Bocorkan Rekomendasi Saham Pekan Ini

Kala itu, IHSG sempat anjlok sekitar 37,5 persen hanya dalam waktu dua bulan dan menyentuh level 3.937 pada Maret 2020.

"Nah, per hari ini posisi IHSG sudah menyentuh 5.594. Artinya, secara YTD dalam lima bulan terakhir, koreksinya sudah tembus 33,3 persen," ungkap Gagas.

Menurutnya, kondisi saat ini terbilang tidak lazim. Sebab, mayoritas emiten papan atas masih membukukan kinerja positif pada kuartal pertama 2026. Namun sentimen negatif yang berasal dari luar pasar justru lebih dominan mempengaruhi keputusan investor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: