BI Kerek BI-Rate Demi Tahan Pelemahan Rupiah dan Arus Modal Keluar
Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen di luar Rapat Dewan Gubernur BI periode Mei 2026-Disway.id/Bianca Khairunnisa-
BACA JUGA:Rupiah Melemah, DPR Minta Pemerintah Percepat Substitusi Impor dan Genjot Ekspor Sektor Produktif
BI Siapkan Empat Jurus Tambahan
Tak hanya mengandalkan kenaikan suku bunga, Bank Indonesia juga meluncurkan sejumlah langkah tambahan untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar domestik.
Salah satunya dengan meningkatkan struktur imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan agar lebih kompetitif dibandingkan instrumen investasi negara berkembang lainnya.
BI juga memberikan insentif berupa pemotongan biaya swap lindung nilai sebesar 10 persen bagi investor asing yang masuk melalui perbankan nasional.
Selain itu, bank sentral kembali membuka fasilitas lelang instrumen repurchase agreement (repo) dengan tenor tiga hingga 12 bulan guna memastikan likuiditas perbankan tetap terjaga.
BACA JUGA:Alfamart Beri Sinyal Harga Barang Bakal Naik, Supplier Mulai Tertekan Imbas Rupiah Melemah
BACA JUGA:BI Terapkan 7 Strategi untuk Menahan Laju Pelemahan Rupiah
Di sisi lain, frekuensi lelang SRBI ditingkatkan menjadi dua kali dalam sepekan. Intervensi pasar valuta asing juga diperkuat melalui transaksi spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), hingga Non Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri.
Sebagai langkah pengamanan tambahan, BI memperkuat koordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.
Sinergi tersebut difokuskan pada dua agenda utama, yakni menjaga daya tarik imbal hasil SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN), serta memastikan pengelolaan kas pemerintah tetap mendukung kecukupan likuiditas di sektor perbankan.
Langkah terpadu tersebut menunjukkan fokus utama pemerintah dan Bank Indonesia saat ini adalah menjaga stabilitas rupiah yang berada di bawah tekanan kuat akibat kombinasi sentimen geopolitik global, arus modal keluar, dan meningkatnya permintaan dolar AS di dalam negeri.
Kini, pasar akan mencermati apakah kebijakan tersebut cukup efektif menahan pelemahan rupiah sekaligus menarik kembali minat investor asing ke pasar keuangan Indonesia. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: