Sell Indonesia
ILUSTRASI Sell Indonesia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
JUAL Indonesia. Kalimat itu sedang viral dalam sepekan ini. Terutama di kalangan pelaku pasar keuangan. Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pun terkoreksi tajam. Rupiah jatuh hingga beberapa kali, mencatat rekor pelemahan terhadap dolar AS. Satu dolar sempat menyentuh Rp18.170.
Beruntung, pada perdagangan kemarin, indeks dan rupiah berbalik arah. Rebound. IHSG ditutup menguat 7,57 persen (404,51 poin) ke level 5.746,65. Begitu juga rupiah, menguat kembali di bawah Rp18.000 per dolar AS (Rp17.954).
Apa ”sell Indonesia”? Istilah itu keluar dari mulut head of research K2 Asset Management yang mengelola dana USD24 miliar, George Boubouras. Pekan lalu pernyataannya itu muncul di Strait Times yang lalu viral. ”The big trade in Asia is sell Indonesia. I have zero exposure to Indonesia. I won’t give them an opportunity.”
Boubouras sendiri sudah cukup lama berinvestasi di Indonesia yang merupakan emerging market. Tapi, ia sudah menarik seluruh investasinya sejak 2024.
Itu masih ditambah dengan downgrade rating utang dan ancaman MSCI untuk mengubah status Indonesia dari emerging market ke frontier market.
Sell Indonesia itu benar-benar tecermin di pasar modal dan pasar uang. Di pasar modal, saham-saham baik pun dijual. Indeks terkoreksi sangat tajam. Sejak Januari, IHSG sudah terkoreksi sekitar 40 persen. Sempat menyentuh 9.000-an pada awal tahun, IHSG Senin lalu ditutup di level 5.342,14.
Dalam satu hari, asing melakukan net sell triliunan rupiah. Pada 8 Juni, net sell sehari mencapai Rp3,7 triliun. Begitu pun besoknya. Bahkan, saat kemarin IHSG mengalami rebound cukup besar, masih saja asing mencatat net sell Rp447 miliar. Total, sepanjang 2026 ini, asing mencatat net sell dari awal tahun mencapai Rp61,3 triliun.
Itu masih ditambah dengan penjualan obligasi besar-besartan oleh asing. Nilainya mencapai lebih dari Rp80 triliun.
Jatuhnya BEI itu langsung berdampak pada rupiah. Capital outflow memaksa para investor melepas investasinya di pasar modal dan pasar obligasi. Rupiah pun jatuh hingga titik terendah sepanjang sejarah: Rp18.170.
Hilang Kepercayaan
Apa penyebab aksi jual investor asing di pasar keuangan? Multifaktor: internal dan eksternal. Dari luar, perang Iran vs Israel dan Amerika Serikat menyebabkan inflasi tinggi di AS. The Fed pun mengerek tingkat bunga ke 5,25–5,20.
Kebijakan itu langsung berdampak. Yield investasi di AS naik signifikan. Para fund manager pun banyak memindahkan dananya dari emerging market seperti Indonesia ke AS. Tekanan jual di pasar modal pun meningkat tajam yang mengakibatkan IHSG jatuh cukup dalam.
Faktor eksternal sebenarnya hanya mendorong kejatuhan bursa dan rupiah. Penyebab utamanya terkait kondisi internal Indonesia yang menyebabkan kepercayaan investor jatuh dan memicu sentimen sell Indonesia.
Dari dalam negeri, fiskal sangat tertekan, terutama akibat kenaikan harga minyak. Emas hitam itu naik dari USD70-an per barel ke level USD110. Subsidi BBM pun membengkak dan itu dibaca sebagai pertanda buruk oleh investor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: