Trauma Pasca-Persalinan: Ketika Ibu Membawa Pulang Luka Psikologis

Trauma Pasca-Persalinan: Ketika Ibu Membawa Pulang Luka Psikologis

Mengenal Postpartum Trauma: Sisi Sunyi Ibu yang Terluka Setelah Melahirkan.-Nano Banana 2-Nano Banana 2

Melahirkan selalu digambarkan sebagai peristiwa paling mulia dalam hidup seorang perempuan. Tangis bayi dianggap sebagai simbol kebahagiaan, sementara senyum keluarga menjadi penanda bahwa “semuanya berjalan baik”.

Tetapi tidak semua ibu pulang dari ruang bersalin dengan cerita yang sama.

Sebagian dari mereka pulang dengan tubuh yang mungkin telah sembuh, tetapi menyimpan sesuatu yang tidak terlihat: luka psikologis setelah melahirkan.

Di ruang-ruang bersalin, yang terlihat sering kali hanya hasil akhir—bayi yang lahir dengan selamat. Namun proses menuju ke sana tidak selalu sama bagi setiap perempuan. Ada yang melahirkan dengan tenang, ada pula yang melewati pengalaman penuh ketakutan, kehilangan kendali, bahkan merasa nyawanya terancam. 

Dalam literatur kesehatan mental, kondisi ini dikenal sebagai postpartum trauma atau trauma pasca-persalinan.

Secara global, diperkirakan sekitar 3%–7% ibu mengalami Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) setelah melahirkan, dan jumlah yang lebih besar—hingga 30%—mengalami gejala trauma ringan hingga sedang, seperti kecemasan berlebih, kilas balik (flashback), gangguan tidur, hingga ketakutan berulang ketika mengingat proses persalinan.

BACA JUGA:Catatan Perjuangan Pendidikan S3: Perempuan dan Dua Dunia

BACA JUGA:Pembangkangan Sipil, Demonstrasi, dan Krisis Representasi Politik

Di Indonesia, berbagai studi menunjukkan angka depresi pasca melahirkan dapat mencapai sekitar 15%–20% ibu, terutama pada kelompok dengan dukungan sosial yang rendah, kondisi ekonomi terbatas, atau riwayat persalinan yang komplikatif.

Artinya, di balik setiap kelahiran yang tampak normal, selalu ada kemungkinan bahwa seorang ibu sedang membawa pulang pengalaman psikologis yang tidak terlihat oleh orang lain.

Seorang ibu di Jawa Timur pernah menceritakan pengalamannya. Persalinan anak pertamanya berlangsung lama dan penuh ketegangan. Ia mengalami kontraksi berjam-jam, lalu harus menjalani tindakan medis darurat.

Bayinya lahir selamat. Tetapi ia sendiri merasa tidak pernah benar-benar “selamat”.

Setelah kembali ke rumah, ia mulai mengalami perubahan. Ia sering terdiam lama ketika mengingat ruang bersalin. Tidurnya tidak nyenyak. Ia mudah terkejut setiap kali mendengar bayi menangis keras. Bahkan untuk membicarakan proses persalinan saja, ia merasa sesak.

“Saya seperti masih tertinggal di ruang itu,” katanya pelan.

BACA JUGA:IHSG Comeback King Libas Level 6.000, Rupiah Pamer Muscle: Bukti Strategi Eko-Politik RI Tidak Kaleng-Kaleng

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: