Catatan Perjuangan Pendidikan S3: Perempuan dan Dua Dunia
Menulis Disertasi atau Menidurkan Anak? Dilema Eksistensial Perempuan Dosen S3.-Nano Banana 2-Nano Banana 2
Ada satu hal yang tidak pernah benar-benar diajarkan di bangku kuliah: bahwa menjadi manusia akademik itu sering kali berarti hidup di dua dunia sekaligus.
Dunia pertama adalah dunia yang terlihat. Ruang kelas, ruang rapat, jurnal ilmiah, deadline penelitian, dan tuntutan Tri Dharma Perguruan Tinggi: mengajar, meneliti, dan mengabdi.
Dunia kedua jauh lebih sunyi. Tidak ada papan nama, tidak ada SK, tidak ada indeksasi Scopus. Dunia itu berisi kelelahan yang tidak sempat diucapkan, rasa bersalah yang sering disembunyikan, dan pertanyaan sederhana yang kadang paling sulit dijawab: “Sampai kapan saya bisa bertahan?”
Di titik itulah perjalanan pendidikan doktoral saya dimulai.
Di lingkungan perguruan tinggi, kita sering menyebut Tri Dharma Perguruan Tinggi seolah itu sesuatu yang mapan dan stabil. Padahal di balik tiga kata itu, ada satu tuntutan lain yang tidak pernah tertulis resmi, tetapi selalu hadir dalam diam: harus terus berkembang tanpa henti.
Seolah-olah dosen tidak pernah boleh selesai menjadi “proses”.
Maka, ketika seseorang memutuskan melanjutkan studi S3, itu bukan sekadar keputusan akademik. Ia adalah keputusan eksistensial. Tentang menjadi siapa, dan tetap bertahan sebagai siapa.
BACA JUGA:Pembangkangan Sipil, Demonstrasi, dan Krisis Representasi Politik
Namun tidak banyak orang melihat sisi yang tidak tercatat itu.
Bahwa di balik judul disertasi dan teori yang dikutip rapi, ada hari-hari ketika seseorang harus memilih: membaca jurnal atau menidurkan anak lebih dulu. Menulis artikel atau menyelesaikan pekerjaan rumah yang tidak pernah masuk CV.
Bagi perempuan, pilihan itu tidak pernah benar-benar bersih.
Kami hidup dalam ruang yang menuntut dua kesempurnaan sekaligus. Di ruang publik, kami diminta produktif, cerdas, dan akademis. Di ruang privat, kami tetap menjadi pusat keluarga, pengatur ritme rumah, dan penjaga emosi banyak orang.
Tidak ada cuti untuk menjadi “dibutuhkan”.
Di titik tertentu, perjalanan ini menjadi latihan panjang dalam menegosiasikan diri sendiri. Antara ambisi dan rasa bersalah. Antara ingin maju dan takut meninggalkan. Antara ingin menyerah dan tidak punya pilihan selain terus berjalan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: