Catatan Perjuangan Pendidikan S3: Perempuan dan Dua Dunia
Menulis Disertasi atau Menidurkan Anak? Dilema Eksistensial Perempuan Dosen S3.-Nano Banana 2-Nano Banana 2
Ia mungkin lahir dari lelah. Ia mungkin tumbuh dari keterbatasan. Tetapi ketika sudah menjadi bagian dari diri, ia tidak akan pergi.
Dan mungkin itu alasan mengapa perjalanan ini tetap dijalani, meski perlahan, meski sering tertatih.
Tantangan lain yang juga tidak ringan adalah tuntutan jabatan fungsional. Dunia akademik hari ini bergerak cepat dengan ukuran-ukuran yang semakin teknis: publikasi, angka kredit, indeksasi, dan berbagai standar yang terus berubah.
Di satu sisi, ini mendorong produktivitas. Namun di sisi lain, ia juga menghadirkan tekanan yang tidak selalu terlihat di permukaan.
Banyak dosen berjalan dalam diam, mencoba menyeimbangkan antara kualitas, integritas ilmiah, dan tuntutan administratif yang terus bertambah.
Untuk siapa pun yang sedang berada dalam perjalanan ini—menulis disertasi, mengejar publikasi, atau sekadar bertahan di tengah padatnya tuntutan akademik—barangkali kita perlu saling mengingatkan satu hal sederhana:
Kita tidak sendirian. Lelah itu nyata. Ragu itu manusiawi. Dan ingin menyerah itu sangat wajar.
BACA JUGA:Pembunuhan Motif Begal di Banyuasin Dirancang Sejoli: Efek Asmara Maut
BACA JUGA:Senja Kala Humaniora Gen Z: Menagih Etika Pancasila, Melanjutkan Pemikiran Listiyono Santoso
Tetapi selama kita masih melangkah, sekecil apa pun itu, berarti kita masih berada di dalam perjalanan.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang gelar yang kita raih.
Tetapi tentang siapa kita menjadi selama proses itu berlangsung.
Dan jika hari ini terasa berat, mungkin bukan karena kita gagal— tetapi karena kita sedang membawa sesuatu yang benar-benar bernilai.
*) Dosen Fakultas Psikologi Universitas 45 Surabaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: