Catatan Perjuangan Pendidikan S3: Perempuan dan Dua Dunia
Menulis Disertasi atau Menidurkan Anak? Dilema Eksistensial Perempuan Dosen S3.-Nano Banana 2-Nano Banana 2
Ada hari-hari ketika semua terasa berjalan normal di luar, tetapi di dalam kepala seperti ada percakapan yang tidak pernah selesai.
BACA JUGA:Profil Suparman, Pembunuh Bocah Bilqis di Sragen: Cacah Wajah Korban
BACA JUGA:Waspada Learning Loss: Fenomena Candu Gawai saat Libur Sekolah
Perjalanan S3 juga tidak bisa dilepaskan dari realitas yang lebih konkret: biaya, waktu, dan energi.
Tidak semua orang melihat bahwa di balik satu artikel ilmiah, ada pengorbanan waktu bersama keluarga. Di balik satu bab disertasi, ada malam-malam panjang yang dipakai untuk membaca ketika orang lain sudah tidur.
Ada juga konsekuensi finansial yang tidak ringan. Mengatur ulang prioritas hidup, menunda kebutuhan pribadi, bahkan menahan banyak hal yang sebenarnya sederhana.
Namun entah bagaimana, semua itu tetap dijalani. Yang lebih sulit sebenarnya bukan hanya beban akademik, tetapi juga ruang tumbuh yang tidak selalu ramah.
Tidak semua institusi memahami bahwa proses akademik adalah proses panjang yang tidak selalu linear. Ada tempat yang menghargai hasil, tetapi lupa bahwa di balik hasil selalu ada proses yang tidak terlihat.
Di titik tertentu, saya memilih diam. Bukan karena tidak punya suara. Tapi karena saya belajar bahwa tidak semua perlawanan harus berbentuk kata-kata. Ada kalanya, bentuk perlawanan paling jujur adalah tetap bertahan.
Hari-hari sebagai dosen sekaligus mahasiswa S3 sering kali terasa seperti berjalan di antara tumpukan tugas yang tidak pernah benar-benar selesai.
BACA JUGA:Membela ABK dari Ganasnya Bullying
BACA JUGA:Strategi Portofolio Energi untuk Mencapai Ketahanan Energi (2-Habis)
Revisi datang bertubi-tubi. Ide kadang buntu. Artikel ditolak. Dan di saat yang sama, kelas tetap harus berjalan, mahasiswa tetap harus dilayani, dan kehidupan tetap harus dijaga agar tidak runtuh.
Ada malam-malam ketika lelah tidak lagi bisa disembunyikan. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu banyak yang harus dipikul sekaligus.
Namun di balik semua itu, ada satu hal yang terus menjadi pegangan: bahwa ilmu adalah sesuatu yang tidak bisa diambil oleh siapa pun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: