Menghitung Harga Sebuah Demonstrasi Mahasiswa
Demo batal diduga karena amplop. Skandal suap mahasiswa ini dinilai merusak legitimasi moral.-Nano Banana 2-Nano Banana 2
Modal itulah yang paling mudah rusak. Kalau dugaan suap itu benar, yang terjadi bukan hanya pembatalan agenda demonstrasi. Yang terjadi adalah pembajakan struktur gerakan.
Dalam demonstrasi yang sehat, keputusan turun ke jalan mestinya lahir dari bawah: dari keresahan, kajian, kesepakatan organisasi, dan mandat anggota. Kalau keputusan itu berubah karena transaksi diam-diam di atas, struktur gerakan dipotong di tengah jalan.
Massa tidak lagi menjadi subjek. Massa menjadi alat tawar. Isu tidak lagi menjadi perjuangan. Isu menjadi komoditas. Aksi tidak lagi menjadi tekanan moral. Aksi berubah menjadi barang dagangan.
Di sinilah pertanyaan itu menjadi menyakitkan: Berapa harga sebuah aksi mahasiswa?
Dalam teori gerakan massa, ada konsep framing. Gerakan harus mampu membingkai isu agar publik paham: ini masalah siapa, siapa yang dirugikan, siapa yang harus bertanggung jawab, dan mengapa orang harus peduli.
BACA JUGA:Tolak Pemborosan APBN, Ribuan Mahasiswa Gelar Demo di Depan Gedung Grahadi Surabaya
Isu biaya kuliah bisa dibingkai sebagai ketidakadilan akses pendidikan. Isu korupsi bisa dibingkai sebagai perampasan uang rakyat. Isu hukum bisa dibingkai sebagai ketimpangan kekuasaan.
Dari bingkai itulah lahir simpati. Dari simpati lahir dukungan. Dari dukungan lahir tekanan.
Tapi apa yang terjadi kalau framing-nya terbalik? Bukan lagi mahasiswa melawan ketidakadilan.
Melainkan mahasiswa diduga menerima uang agar tidak melawan.
Yang semula mengawasi kekuasaan berubah menjadi pihak yang diawasi publik. Yang semula membawa tuntutan berubah menjadi tertuntut. Yang semula bertanya kepada negara kini ditanya masyarakat.
Berapa amplopnya? Siapa pemberinya? Siapa penerimanya? Siapa yang tahu? Siapa yang diam?
Pertanyaan-pertanyaan itu berbahaya bagi gerakan. Sebab gerakan sosial hidup dari kepercayaan. Sekali kepercayaan retak, mobilisasi berikutnya akan lebih berat. Publik akan ragu. Mahasiswa sendiri akan saling curiga.
Setiap aksi akan ditanya: ini murni atau pesanan? Setiap aksi batal akan ditanya: ini strategi atau transaksi? Itulah kerusakan terbesar. Bukan jumlah uangnya. Tapi hancurnya legitimasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: