Menghitung Harga Sebuah Demonstrasi Mahasiswa
Demo batal diduga karena amplop. Skandal suap mahasiswa ini dinilai merusak legitimasi moral.-Nano Banana 2-Nano Banana 2
Demo itu batal. Bukan karena hujan. Bukan karena massa kurang. Bukan karena spanduk belum jadi. Bukan juga karena mobil komando mogok. Demo itu batal, kabarnya karena amplop.
Tentu kita harus hati-hati. Kata kuncinya masih: diduga. Perwakilan BEM FH UBK diduga menerima suap agar tidak menggelar aksi di Istana Negara. Kita belum boleh menghukum siapa pun sebelum semuanya terang.
Tapi berita seperti ini selalu lebih panjang dari peristiwanya.
Sebab kalau dugaan itu benar, yang dibeli bukan hanya satu aksi. Yang dibeli adalah suara. Yang dibeli adalah keberanian. Yang dibeli adalah kepercayaan publik kepada mahasiswa.
Padahal, dalam teori gerakan sosial, demonstrasi bukan sekadar orang ramai-ramai turun ke jalan. Demonstrasi adalah bentuk aksi kolektif. Ada keresahan bersama. Ada isu yang dibingkai. Ada organisasi yang menggerakkan. Ada sumber daya yang dihimpun. Ada momentum politik yang dibaca. Ada pula sasaran yang dipilih.
Dalam kasus mahasiswa, jalan raya adalah panggung. Istana adalah simbol. Tuntutan adalah naskah. Mahasiswa adalah aktor. Publik adalah penonton sekaligus pemberi legitimasi.
Itu sebabnya demo tidak pernah sesederhana yang tampak di layar televisi. Di balik satu aksi, ada struktur. Ada konsolidasi. Ada kajian. Ada rapat yang molor. Ada debat panjang di grup WhatsApp. Ada pembagian tugas.
BACA JUGA:Terima Uang sebelum Demo Istana, Ketua BEM FH UBK Sempat Bertemu Gibran dan Tolak Jamuan Makan Malam
BACA JUGA:Daftar Aliran Uang Dugaan Suap Aksi Demo Istana Terungkap, Ketua BEM FH UBK Disebut Terima Rp6 Juta
Ada koordinator lapangan. Ada orator. Ada tim media. Ada tim keamanan. Ada negosiator. Ada tim logistik. Ada dokumentator. Ada yang menyiapkan rilis pers. Ada yang membawa spanduk. Ada pula yang memastikan massa tidak tercerai-berai.
Demonstrasi adalah organisasi berjalan. Ia tampak berisik di luar. Tapi di dalamnya ada tata kerja.
Dalam teori gerakan sosial modern, ada istilah mobilisasi sumber daya. Sebuah gerakan tidak cukup hanya punya kemarahan. Kemarahan harus diubah menjadi tenaga. Tenaga harus diubah menjadi barisan. Barisan harus diubah menjadi tekanan politik.
Untuk itu perlu sumber daya: orang, waktu, jaringan, uang, media, legitimasi moral, dan keberanian.
Mahasiswa biasanya punya beberapa di antaranya. Mereka punya energi. Punya waktu. Punya jejaring kampus. Punya bahasa moral. Punya sejarah. Kadang mereka tidak punya uang. Karena itu aksi mahasiswa sering lahir dari iuran, patungan, kopi sachet, nasi bungkus, dan semangat yang lebih besar daripada saldo kas organisasi.
Justru di situlah nilainya. Aksi mahasiswa menjadi mahal bukan karena ongkos mobil komandonya. Bukan karena harga cetak spanduknya. Bukan karena sewa pengeras suaranya. Aksi mahasiswa menjadi mahal karena modal moralnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: