Era Baru Hubungan Indonesia-Rusia: Non-Aligned dalam Dunia Multipolar
ILUSTRASI Era Baru Hubungan Indonesia-Rusia: Non-Aligned dalam Dunia Multipolar.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
”We consider that this world must develop into a multipolar world… The world of unipolar centrality is past. This is the trend of history…. Russia and China have never had double standards. Russia and China have always defended the downtrodden, have always defended the oppressed, and have always fought for the justice of all peoples of the world. So, I say this from my heart.”
Kalimat itu menunjukkan posisi Indonesia yang mendukung tatanan dunia multipolar dan memberikan apresiasi langsung kepada Rusia.
Pada pidato presiden RI tersebut juga disampaikan ucapan terima kasih atas bantuan Rusia yang mempercepat diterimanya Indonesia sebagai anggota BRICS, undangan partisipasi Rusia dalam perekonomian Indonesia berupa kerja sama investasi dan sebagainya. Presiden menyampaikan, hubungan kerja sama Indonesia-Rusia menekankan prinsip kesetaraan, bukan Indonesia sebagai sekadar penerima bantuan.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin di forum yang sama menyatakan kegembiraannya atas kehadiran Presiden Prabowo dan memuji pidato pemimpin Indonesia tersebut. Putin juga mengapresiasi pemaparan visi ekonomi Prabowo yang dinilai strategis dalam memperkuat posisi negara-negara Global South.
Presiden Putin menekankan potensi besar kerja sama bilateral antara Rusia dan Indonesia di berbagai sektor krusial. Mulai perdagangan, investasi, energi, pertanian, pertahanan, hingga pendidikan tinggi.
Peningkatan Kunjungan Presiden RI ke Rusia
Pada bagian ini, saya ingin sedikit menyinggung ketidaksepakatan saya terhadap netizen yang asal nyinyir terhadap upaya presiden RI dalam membangun hubungan internasional ke negara mana pun, termasuk kunjungan ke Rusia.
Memang, sudah menjadi tugas presiden dan jajaran pejabat tinggi negara untuk membuka seluas-luasnya akses kerja sama internasional yang bisa memberikan dampak positif untuk negara dan rakyat. Justru upaya diplomasi internasional saat ini adalah kunci keselamatan Indonesia melewati badai geopolitik dan ekonomi yang ada saat ini dan di masa depan.
Lawatan Presiden Prabowo ke Rusia sudah berlangsung tiga kali. Pertama, Prabowo melakukan kunjungan resmi ke St. Petersburg pada 18-19 Juni 2025 atas undangan Presiden Putin untuk memperkuat kemitraan strategis yang sudah diulas sebelumnya.
Kedua, pada Desember 2025 Presiden Prabowo kembali melawat ke Moskow, tiba pada 10 Desember 2025, setelah perjalanan dari Pakistan untuk mengadakan pertemuan bilateral di Istana Kremlin.
Ketiga, pada April 2026 kunjungan kenegaraan dilakukan ke Moskow pada 13 April 2026 untuk memperkuat kerja sama ketahanan energi dan stabilitas pasokan minyak nasional. Pada Juni 2026, semestinya presiden RI mengikuti agenda KTT Rusia-ASEAN yang diselenggarakan di Kazan.
Namun, Prabowo berhalangan sehingg digantikan menteri luar negeri RI. Justru, beberapa kali lawatan tersebut membuktikan keseriusan Indonesia-Rusia dalam membangun hubungan kerja sama yang solid, bukan kunjungan seremonial tanpa ada tindak lanjut.
Pejabat Tinggi hingga Universitas RI ke Rusia
Pada 10 Desember 2025, Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Rusia Valery Falkov dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia Brian Yuliarto menandatangani Persetujuan antara Pemerintah Federasi Rusia dan Republik Indonesia tentang Pengakuan Timbal Balik atas Pendidikan, Kualifikasi, dan Gelar Akademik.
Kerja sama itu secara resmi mengakui ijazah, gelar, dan kualifikasi yang dikeluarkan perguruan tinggi di kedua negara. Artinya, lulusan universitas Rusia di Indonesia (dan sebaliknya) tidak perlu lagi melalui proses validasi atau penyetaraan yang rumit dan lama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: