Atasi 1.500 Ton Sampah di Surabaya, DPRD Dorong Program Hilirisasi

Atasi 1.500 Ton Sampah di Surabaya, DPRD Dorong Program Hilirisasi

Suasana TPS di Rungkut Kidul, Surabaya, Rabu, 24 Juni 2026.-Boy Slamet-Harian Disway

SURABAYA, HARIAN DISWAY - SURABAYA terus menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah seiring meningkatnya aktivitas dan pertumbuhan kawasan perkotaan.

Melihat kondisi tersebut, DPRD Kota Surabaya mendorong adanya perubahan pola pengelolaan sampah melalui pendekatan hilirisasi yang tak cuma berfokus pada pengurangan volume sampah, tapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Wakil Ketua DPRD Surabaya Bahtiar Rifai menilai sistem pengelolaan sampah yang selama ini berjalan perlu ditingkatkan agar lebih produktif dan berkelanjutan.

Dengan produksi sampah rumah tangga yang mencapai sekitar 1.000 hingga 1.500 ton per hari, Surabaya membutuhkan strategi yang tidak lagi hanya mengandalkan pembuangan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo.

BACA JUGA:Surabaya Jadi Laboratorium Pengendalian Sampah Plastik, Tapi Produksi Sampah Masih 1.800 Ton per Hari

BACA JUGA:Surabaya Tambah PSEL di Sumberejo, Target Olah 800 Ton Sampah Per Hari

"Pola pengelolaan sampah yang selama ini masih bertumpu pada skema kumpul, angkut, dan buang ke tempat pemrosesan akhir (TPA) Benowo perlu diubah menuju sistem ekonomi sirkular yang dimulai dari lingkungan kampung," katanya Rabu, 24 Juni 2026.

Menurutnya, Program Kampung Pancasila yang saat ini sudah berjalan di berbagai wilayah Surabaya dapat menjadi fondasi untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih produktif.


DLH Surabaya menyiapkan ruang besar di beberapa TPS untuk sampah jumbo -Pemkot Surabaya-

Program tersebut dinilai memiliki kekuatan karena menyentuh aspek lingkungan juga sosial, ekonomi, dan semangat gotong royong masyarakat.

"Kampung Pancasila bisa menyentuh aspek sosial, ekonomi, dan penguatan gotong royong. Tinggal bagaimana ekosistem pengelolaan sampahnya kita lengkapi agar memberi manfaat langsung kepada warga," imbuhnya.

Ia menilai kesadaran masyarakat terkait pemilahan sampah sebenarnya sudah cukup baik. Berbagai edukasi mengenai pemisahan sampah plastik, kertas, hingga sampah organik telah dilakukan. Tapi, persoalan utama masih terletak pada minimnya fasilitas pendukung yang tersedia di lapangan.

BACA JUGA:Surabaya Sabet USD1 Juta dari Bloomberg, Gebrakan Kurangi Sampah Popok di Sungai

BACA JUGA:Diskusi AJI Surabaya Solusi Palsu Pengelolaan Sampah: Langkah Paling Mudah, Pilah dari Rumah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: