Virtual Project Exhibition Unair: Kolaborasi Teknologi dan Bahasa, Selipkan Reading Comprehension dalam Gim

Virtual Project Exhibition Unair: Kolaborasi Teknologi dan Bahasa, Selipkan Reading Comprehension dalam Gim

TIM INDOZOOPEDIA dalam Virtual Project Exhibition Unair pada Kamis, 25 Juni 2026.--Dokumentasi Azwa Hafizh Albana

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Teknologi membuat pembelajaran bahasa kian menyenangkan. Prodi Sastra Inggris Universitas Airlangga (Unair) menghadirkan virtual reality (VR), augmented reality (AR), extended reality (XR), dan artificial intelligence (AI) sebagai media ajar.

Azwa Hafizh Albana merancang prototipe gim edukatif berbasis VR. Nama gim itu IndoZoopedia. Sembari belajar Bahasa Inggris, audiens diajak mengenali satwa-satwa endemik Indonesia. 

"Ini sekaligus menjadi sarana meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konservasi satwa," ungkap mahasiswa semester 6 Bahasa dan Sastra Inggris tersebut. IndoZoopedia dipamerkan dalam Virtual Project Exhibition pada Kamis, 25 Juni 2026.

Pameran diramaikan oleh 32 kelompok mahasiswa. IndoZoopedia karya Hafizh meraih predikat Best Virtual Project. "Ini awalnya tugas ujian tengah semester mata kuliah Virtual Learning and Language Assessment atau VLLA," katanya kepada Harian Disway

BACA JUGA:UNAIR Kembali Jadi Kampus Terbaik Indonesia di THE Sustainability Impact Ratings 2026

BACA JUGA:Raih Gelar Doktor Unair, Kombespol Ganis Tegaskan Peran Strategis Polwan dalam Transformasi Polri

Sebagai tugas akhir, mahasiswa wajib menyusun proposal yang kemudian direalisasikan sebagai proyek virtual. Hafizh membutuhkan waktu sekitar 2-3 bulan untuk mewujudkan prototipe sesuai proposal. Prosesnya meliputi finalisasi grafik, gameplay, dan antarmuka (UI) yang dikebut selama satu minggu tiga hari menjelang pameran.

"Konsep IndoZoopedia menggabungkan eksplorasi, konservasi satwa, dan metode game-based learning," kata Hafizh. Di dalam gim tersebut, para pemain berperan sebagai field doctor (dokter lapangan) yang bertugas menyelamatkan satwa endemik di lima pulau utama Indonesia. Yakni, Kalimantan, Sumatra, Jawa, Sulawesi, dan Papua.


AZWA HAFIZH ALBANA menerima penghargaan Best Virtual Project dalam pameran tugas Virtual Learning and Languange Assessment Unair.--Dokumentasi Noerhayati Ika Putri

"Pemain harus berinteraksi dengan NPC untuk mendapatkan petunjuk, mencari jejak satwa, dan menyelesaikan mini-game penyelamatan," terangnya.

Setelah satwa berhasil diselamatkan, pemain masuk ke tahap language assessment berupa membaca teks Bahasa Inggris (reading comprehension) terkait satwa tersebut. "Ada empat pertanyaan," imbuh Hafizh.

BACA JUGA:AHY Ajak Pakar Unair Beri Masukan Strategis untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045

BACA JUGA:Raih Peringkat 276 Dunia Versi QS WUR 2027, Unair Bakal Tingkatkan Kualitas Riset dan Publikasi

IndoZoopedia juga dilengkapi player statistics yang berfungsi sebagai laporan perkembangan belajar (learning report). Di sana, tercatat nilai asesmen, akurasi jawaban, jumlah satwa yang diselamatkan, dan pencapaian (achievement) pemain.

Dalam proses pengembangannya, Hafizh yang mengaku terinspirasi gim populer Fire Watch, sempat kesulitan saat melakukan pemrograman (coding). Ia dan timnya hanya berbekal bantuan AI dan tutorial YouTube. "Akhirnya kami minta tolong ke temen-temen prodi IT," ungkapnya.

Ia berpesan kepada Harian Disway untuk mengakses gim edukatif IndoZoopedia dari laptop, bukan ponsel. "Kalau dari ponsel, nanti tampilannya jadi terpotong-potong. Pakai laptop saja ya," ucapnya.

Virtual Learning and Language Assessment (VLLA) merupakan mata kuliah baru yang hadir sejak awal 2024. Mata kuliah itu dirancang sebagai respons terhadap tantangan industri, sekaligus membuktikan bahwa mahasiswa bidang sosial humaniora mampu bersikap adaptif, komunikatif, dan fleksibel dalam memanfaatkan teknologi modern. 

BACA JUGA:Unair Resmikan Kantor OIC-COMSTECH di Aseec Tower, Perkuat Kerja Sama dengan Negara OKI

BACA JUGA:UNAIR Catat Sejarah Baru, Peringkat 276 Dunia dan Tiga Besar Nasional Versi QS WUR 2027


TIM MAHASISWA memamerkan tugas akhir mereka dari mata kuliah Virtual Learning and Language Assessment pada Kamis, 25 Juni 2026.--Dokumentasi Noerhayati Ika Putri

Noerhayati Ika Putri, salah satu dosen VLLA, mengatakan bahwa pada semester ini, mata kuliah tersebut diikuti oleh sekitar 180 mahasiswa semester 6. Mereka terbagi dalam tiga kelas, dengan rata-rata 59 hingga 60 mahasiswa per kelas.

Dalam perkuliahan, mahasiswa diajarkan mengintegrasikan teknologi mutakhir seperti VR, AR, XR, dan AI dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Sebagai tugas akhir, mahasiswa secara berkelompok diwajibkan merancang skenario pembelajaran dan mengembangkan prototipe aplikasi atau gim edukatif.

"Meski berlatar belakang program studi bahasa, para mahasiswa ini sangat kreatif dan adaptif dalam mengatasi tantangan teknis seperti coding," terang Ika.

Mereka memanfaatkan berbagai sumber daya digital gratis dan platform seperti Google AI Studio yang menyediakan templat serta fitur aplikatif. Adapun, karya para mahasiswa bebas dikembangkan dari berbagai tema. Mulai dari pengenalan makanan tradisional hingga edukasi lingkungan.

BACA JUGA:Kupas Bisnis Berbasis Etika Lingkungan dan Pendidikan di Antro Unair

BACA JUGA:Apsilangga Unair Gelar Seminar 'Keluarga vs Gadget': Kupas Generasi Sandwich dan Beban Mental Lansia

Produk prototipe yang dihasilkan dari mata kuliah tersebut, menurut Ika, juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Project VLLA juga bisa menjadi ide skripsi alternatif.

Yakni, skripsi non-paper yang merupakan kebijakan baru di FIB Unair. Bentuknya bisa berupa web, aplikasi, hingga produk yang selinier dengan jurusan. 

"Karya-karya ini juga sangat berpeluang untuk dikembangkan menjadi bisnis rintisan (startup) apabila mereka niat," pungkasnya. (*)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: