Hari Keluarga Nasional dan Anak yang Kehilangan Tempat Pulang
ILUSTRASI Hari Keluarga Nasional dan Anak yang Kehilangan Tempat Pulang.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Fatherless tidak boleh dipersempit sebagai kesalahan ayah semata. Fatherless adalah krisis kesadaran (consciousness) pengasuhan keluarga. Ayah, ibu, anak, pekerjaan, ekonomi, budaya patriarki, sekolah, agama, media sosial, dan negara ikut membentuk hadir atau hilangnya fungsi ayah dalam keluarga.
Ayah yang terlalu lama dipahami hanya sebagai pencari nafkah dapat kehilangan perannya sebagai pendengar. Ibu yang terus dibebani kerja emosional dapat kehilangan ruang untuk ditopang. Anak yang tidak didengar dapat mencari pengakuan dari ruang digital yang belum tentu aman.
Michel Foucault membantu kita membaca bahwa keluarga tidak hanya dibentuk oleh hubungan darah, tetapi juga oleh relasi kuasa. Kalimat seperti ”orang tua selalu benar”, ”anak jangan melawan”, atau ”ayah sudah capek bekerja” sering menjadi rezim kebenaran kecil di dalam rumah.
Kalimat itu tampak wajar, tetapi dapat membungkam pengalaman anak. Anak akhirnya tidak hanya kehilangan suara. Anak juga dipaksa meragukan rasa sakitnya sendiri.
Istilah gaslighting yang populer di kalangan gen Z menjadi relevan. Gaslighting dalam keluarga terjadi ketika pengalaman anak disangkal, diperkecil, atau dibalik seolah-olah anak terlalu sensitif, kurang bersyukur, atau tidak tahu diri.
Anak berkata terluka, tetapi keluarga menjawab ia berlebihan. Anak meminta didengar, tetapi dianggap membantah. Ayah mungkin hadir secara fisik, tetapi relasi keluarga bekerja dengan cara yang menghapus pengalaman batin anak.
Antonio Gramsci memberikan lensa lain. Krisis pengasuhan juga lahir dari hegemoni budaya yang menormalisasi ayah sebagai mesin nafkah dan ibu sebagai penanggung jawab utama emosi keluarga. Budaya itu membuat ketidakhadiran ayah tampak biasa.
Ayah dianggap cukup bila membayar sekolah. Ibu dianggap otomatis kuat menanggung semua beban. Anak diminta memahami orang tua, sedangkan orang tua tidak selalu belajar memahami anak.
Data digital juga menunjukkan sisi lain yang berbahaya. Fatherless sering berubah menjadi arena saling menyalahkan. Laki-laki menyalahkan perempuan. Perempuan menyalahkan laki-laki. Anak menyalahkan orang tua. Orang tua menyalahkan anak.
Dalil agama, psikologi populer, dan standar media sosial kadang dipakai tidak untuk menyembuhkan, tetapi untuk menghakimi. Ruang digital akhirnya tidak hanya menjadi tempat curhat.
Ruang digital berubah menjadi pengadilan sosial yang menentukan siapa dianggap benar, siapa dianggap gagal, dan siapa dianggap pantas disalahkan.
Itulah temuan yang perlu dibaca pemerintah dan masyarakat. Data digital tidak hanya menunjukkan apa yang ramai dibicarakan. Data digital menunjukkan apa yang selama ini tidak terdengar di meja makan keluarga, ruang guru, kantor pemerintahan, dan forum kebijakan.
Percakapan digital menjadi sistem pendengaran sosial. Ia menangkap rasa yang sering tidak muncul dalam data administratif.
Ruang digital kemudian menjadi tempat pelarian. Anak yang tidak didengar keluarga mencari telinga di media sosial. Anak yang tidak memperoleh validasi dari rumah mengejar validasi dari komentar, likes, game, konten, atau relasi daring.
Algoritma tidak bertanya apakah seorang anak sedang terluka. Algoritma hanya membaca perhatian, emosi, dan keterikatan. Luka keluarga yang tidak diselesaikan di rumah dapat berubah menjadi konsumsi digital yang terus berputar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: