Hari Keluarga Nasional dan Anak yang Kehilangan Tempat Pulang
ILUSTRASI Hari Keluarga Nasional dan Anak yang Kehilangan Tempat Pulang.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Pemerintah perlu membaca fatherless sebagai alarm kebijakan keluarga, bukan sekadar isu moral rumah tangga. Kebijakan keluarga tidak cukup berhenti pada penyuluhan umum.
Negara perlu memperkuat pendidikan pengasuhan untuk ayah dan ibu, layanan konseling keluarga, literasi digital keluarga, budaya kerja ramah pengasuhan, dan deteksi dini masalah psikososial anak. Sekolah dan komunitas perlu menjadi ruang pendukung bukan sekadar penonton ketika anak kehilangan arah.
Program seperti ayah antar sekolah dan ayah ambil rapor dapat menjadi simbol awal, tetapi tidak boleh dianggap solusi utama. Fatherless tidak selesai karena ayah hadir satu hari di sekolah.
Fatherless hanya dapat dijawab melalui kehadiran yang konsisten, percakapan yang sehat, pembagian pengasuhan yang adil, dan keberanian keluarga untuk saling mendengar.
Fatherless juga tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan luka yang melukai orang lain. Luka masa kecil perlu diakui, tetapi tidak boleh berubah menjadi identitas korban yang permanen. Kesadaran keluarga harus bergerak dari menyalahkan menuju memulihkan.
Hari Keluarga Nasional 2026 harus menjadi peringatan dini. Fatherless bukan hanya tentang anak tanpa ayah. Fatherless adalah tanda bahwa sebagian anak Indonesia sedang kehilangan pengalaman untuk dicintai secara utuh.
Keluarga Indonesia tidak cukup memiliki rumah yang layak huni. Keluarga Indonesia membutuhkan rumah yang layak menjadi tempat pulang hati. (*)
*) Irwan Dwi Arianto, kepala Laboratorium Integrated Digital UPN ”Veteran” Jawa Timur, founder ASIGTA, dan Dewan Pendidikan Kota Surabaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: