Ketika Generasi Alfa Mencerna Iklan Politik
ILUSTRASI Ketika Generasi Alfa Mencerna Iklan Politik.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Menariknya, kekuatan sejati generasi alfa di Pemilu 2029 tidak hanya terletak pada satu suara yang mereka masukkan ke kotak suara. Penelitian Murillo (2022) dari Princenton University menyebutkan, generasi alfa memiliki kekuatan dalam memengaruhi pemilihan politik orang tuanya.
Fenomena sosiologis itu disebut sebagai sosialisasi politik terbalik (reverse political socialization). Jika pada dekade-dekade lalu pilihan politik anak ditentukan oleh ”perintah” sang ayah, pola patronase kuno itu diprediksi akan runtuh di meja makan keluarga modern.
Maklum saja, sebagian besar orang tua dari generasi alfa adalah generasi milenial yang menerapkan pola asuh demokratis. Pengasuhan ala generasi milenial menempatkan anak-anak alfa sudah diposisikan sebagai kopilot yang suaranya dilibatkan dalam keputusan rumah tangga sedari dini.
Ketika pemilu tiba dan arus disinformasi serta video deepfake berbasis AI membanjiri ruang siber, para orang tua yang merupakan digital immigrants sering kali kelelahan menyaring informasi.
Di sinilah anak-anak alfa mengambil peran sebagai ”konsultan politik” dadakan bagi orang tuanya di rumah. Dengan ketangkasan digitalnya, mereka mampu melacak rekam jejak, memverifikasi fakta, dan membedah program kerja kandidat dalam hitungan detik untuk kemudian didiskusikan bersama orang tua mereka.
Ketika seorang anak alfa berargumen secara rasional mengenai sebuah kebijakan dengan berbasis data, pemikiran orang tua yang dari generasi milenial cenderung terbuka dalam membedah informasi bersama-sama.
Di sinilah efek ganda itu terjadi. Bisa jadi suara 5 persen milik generasi alfa bertransformasi menjadi penentu arah pilihan orang tua mereka yang jumlahnya mencakup lebih dari separuh total pemilih nasional.
Oleh karena itu, Pemilu 2029 memaksa para peserta pemilu untuk merombak total strategi komunikasinya. Beriklan politik di era screenagers bukan lagi tentang seberapa besar baliho yang terpasang di perempatan jalan, atau seberapa masif melakukan iklan di media massa konvensional maupun media sosial.
Beriklan di era itu adalah tentang otentisitas, transparansi, dan keberanian menyajikan kebijakan berbasis data yang menyentuh masa depan riil mereka.
Pada akhirnya, kontestasi politik masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang paling bising di ruang publik fisik maupun dunia maya. Pemenang adalah siapa yang berhasil memenangkan ruang perhatian dan kepercayaan pemilih dengan informasi yang terverifikasi. Apakah itu terbukti? Kita lihat saja nanti. (*)
*) Sundari adalah anggota Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jatim dan lulusan magister ilmu komunikasi, Universitas Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: