Ketika Generasi Alfa Mencerna Iklan Politik

Ketika Generasi Alfa Mencerna Iklan Politik

ILUSTRASI Ketika Generasi Alfa Mencerna Iklan Politik.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

MENJELANG tahun politik 2029 yang akan datang, kebiasaan lama diprediksi kembali menghiasi ruang publik kita. Sudut-sudut kota dan jalan protokol akan disesaki kepungan baliho fisik berukuran raksasa, poster ditempel di tembok dan pohon, menampilkan foto para politikus peserta pemilu yang tersenyum kaku dengan setelan formal maupun kasual. 

Di sisi lain, bisa jadi sekumpulan anak muda tanggung usia 17-an tahun berjalan melewati iklan perkotaan sambil menunduk memegang apa yang di tangan. Perhatian mereka tersedot sepenuhnya oleh layar gawai berukuran 6 inci di genggaman tangan. 

Kontras visual itu bukan sekadar urusan estetika kota, melainkan sebuah alarm keras bagi masa depan komunikasi politik di Indonesia. Pada Pemilu 2029, gerbang pesta demokrasi bagi gelombang pertama generasi alfa resmi dibuka. 

Anak-anak kelahiran tahun 2010, 2011, dan awal 2012 akan menapakkan kaki untuk kalin pertama di bilik suara sebagai pemilih pemula. 

BACA JUGA:Khofifah Ajak Guru RA Jaga Tradisi Menulis Generasi Alfa di Era AI

Berdasar dokumen Proyeksi Penduduk Indonesia 2020–2050 yang dirilis BPS dan Bappenas, kelompok pemilih pemula murni dari generasi alfa itu diperkirakan mencapai angka 11 hingga 13 juta jiwa. 

Jika dikonversi ke dalam peta komposisi pemilih, porsi mereka memang relatif kecil jika dibandingkan dengan dominasi generasi milenial atau generasi Z, berkisar 5 hingga 6 persen dari total daftar pemilih tetap (DPT) nasional. 

Namun, jangan meremehkan porsi yang terlihat kecil itu. Kontestan politik bisa memanfaatkan suara minim tersebut untuk memenangkan pemilihan. Dalam sejarah pemilu kita yang kerap menyajikan persaingan ketat, selisih 5 persen suara kerap kali menjadi pembeda mutlak antara kemenangan dan kekalahan. 

Melek Informasi, Influencer bagi Orang Tuanya

Generasi alfa mempunyai karakter yang paham dengan informasi. Mereka punya karakteristik unik sebagai digital natives sejati. Generasi itu disebut sebagai ”screenagers” alias screen (layar) dan teenagers (remaja). Mereka tidak pernah mengenal dunia tanpa internet, algoritma, maupun kecerdasan buatan (AI). 

Kondisi psikologis dan lingkungan digital itu membentuk mereka menjadi kelompok pemilih yang memiliki mental ad-blocker alami, jago memilih iklan sesuai kebutuhan. 

Berdasar riset Hudders (2025) dalam artikel Capturing Attention: Undersarinding the Dynamics of Interactive Adverstising to Engage Generation Alpha, mereka terbiasa melewati iklan dalam hitungan detik. Format iklan politik konvensional yang bersifat monolog, membosankan, dan sarat bualan pencitraan akan terabaikan di hadapan mereka. 

Lebih jauh lagi, screenagers memiliki intuisi yang sangat tajam untuk mendeteksi kepalsuan. Tumbuh besar di tengah gempuran teknologi manipulasi visual, generasi alfa bisa jadi kebal terhadap gimik politik murahan. 

Video kampanye yang terlalu dipoles atau pencitraan buatan yang dipaksakan justru akan berakhir menjadi bahan tertawaan atau meme di komunitas virtual mereka yang cenderung tertutup. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: