Perang karena Perang: Analisis Paradoks Kemenangan Israel
ILUSTRASI Perang karena Perang: Analisis Paradoks Kemenangan Israel.-Arya/AI-Harian Disway-
Dari semua kekacauan ini, kita belajar beberapa hal. Tentu saya tidak ingin menggiring Anda ke satu kesimpulan. Sebab, perang dan pelajaran dari perang selalu menyisakan ruang untuk refleksi. Refleksi itu, jika dikelola, justru bisa jadi arah.
Pertama, kekuatan tanpa strategi adalah kemenangan hampa. Israel membuktikannya. Mereka kuasai 70 persen Gaza, duduki Lebanon Selatan, tetapi tak punya tujuan akhir. Indonesia harus ingat, membangun kekuatan tempur tanpa membangun diplomasi yang menyertai itu seperti membeli pedang mahal, tetapi lupa belajar cara menyimpannya dengan baik. Seorang jenderal tua berkata, ”senjata ibarat lidah diplomat. Jika diplomat membisu, senjata bisa bicara sendiri, dan biasanya bicara dengan kata kasar.”
Kedua, politik pecah belah adalah musuh terbesar. Israel bertempur satu tangan, tangan lainnya sibuk berkelahi dengan diri sendiri. Mereka mempertahankan RUU ultraortodoks, sementara tentara mulai kehabisan napas.
Indonesia punya dinamika sendiri. Kepentingan nasional harus di atas kelompok. Kata pepatah militer kuno, ”front garis belakang yang kacau membunuh lebih banyak prajurit daripada peluru musuh di depan.”
Ketiga, aliansi itu penting. Tetapi, ketergantungan melenakan. Israel ingin mandiri dari AS, tetapi saat DPR AS membatalkan pemotongan dana 3,3 miliar dolar, mereka tetap terikat dan tergantung. Indonesia harus membangun kemandirian, tanpa isolasi. Kemandirian berarti mampu berkata ”tidak” tanpa takut kehilangan napas.
Keempat, perang hari ini bukan di darat, laut, atau udara. Perang hari ini adalah siber, informasi, dan ekonomi. Israel diserang siber tiga kali lipat. Infrastruktur ditarget setiap hari. Indonesia harus perkuat pertahanan siber. Semua pemikir strategis juga sepakat ”perang berikutnya tidak mulai dengan ledakan, perang berikutnya mulai dengan virtual.”
Kelima, kekuatan sejati adalah perdamaian yang berkelanjutan, bukan sekadar menang pertempuran. Israel kuat, tetapi mereka tak pernah bisa tidur nyenyak. Mereka tak pernah benar-benar aman. Buktinya, gencatan senjata sudah berlangsung, tetapi 1.053 tewas di Gaza.
Perdamaian dengan Lebanon baru ditandatangani, Netanyahu langsung mengingkarinya. Itu seperti membangun rumah dengan alarm setiap lima menit. Anda aman dari pencuri, tetapi Anda tak pernah tenang dan bisa istirahat.
Pertanyaan untuk Indonesia, apakah kita ingin jadi seperti itu? Kuat, tetapi terperangkap lingkaran kekerasan tanpa akhir?
Seorang diplomat senior berpesan. ”Perang itu mudah. Perdamaian itu sulit. Tapi, hanya perdamaian yang bisa diwariskan kepada anak cucu.”
Ingat!
Di balik roket, rudal, laser. Satu pertanyaan besar. Apa tujuan akhir Israel? Membangun benteng terkuat yang abadi? Atau, kuburan bagi para musuh? Saya tentu tak punya jawaban pasti. Mungkin tak ada analis yang punya.
Sebab, jawaban tergantung pemilu. Tergantung Iran. Tergantung AS juga.
Tapi, satu hal pasti. Perang hari ini cermin kepemimpinan. Pemimpin bingung? Perang bingung. Pemikir hanya duduk di kursi? Prajuritnya sudah mati sia-sia.
Indonesia harus kuat. Dan bijak. Kuat agar tak diremehkan. Bijak agar tak terjerumus keinginan perang-perangan tanpa akhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: