Perang karena Perang: Analisis Paradoks Kemenangan Israel

Perang karena Perang: Analisis Paradoks Kemenangan Israel

ILUSTRASI Perang karena Perang: Analisis Paradoks Kemenangan Israel.-Arya/AI-Harian Disway-

BACA JUGA:Nestapa Kucing Perang

BACA JUGA:Perang Iran dan Kompleksitas Geopolitik di Timur Tengah

Yang lucu, atau tragis, bergantung Anda memilih sudut pandang. Baru 26 Juni lalu, Israel dan Lebanon menandatangani kesepakatan damai yang disponsori AS. Isinya pelucutan Hizbullah dan penarikan bertahap. Sehari kemudian, Netanyahu terbang ke Lebanon Selatan dan berkata di depan kamera. ”Kami tidak akan meninggalkan Lebanon Selatan sampai ancaman itu lenyap.”

Bayangkan. Anda tanda tangan kontrak damai. Lalu, Anda sendiri yang mengingkarinya keesokan harinya. Diplomat Amerika Serikat (AS) geleng-geleng. Jenderal Hizbullah di Beirut tertawa sambil mengisi ulang roket.

Ini bukan perang dengan tujuan. Ini perang karena perang. Seorang komandan lapangan berbisik lirih. ”Kami tahu cara menang. Kami tak tahu cara menghentikan kemenangan jadi kerugian.”

Tajam. Dan benar.

Teriakan Dua Suara. Satu Tubuh.

BACA JUGA:Perang Narasi Era Akal Imitasi

BACA JUGA:Tenang, Amerika Serikat Tak Selalu Menang Perang

Sekarang politik. Kita semua tahu, perang adalah kelanjutan politik. Di Israel, politik justru menjadi hambatan perang. Dan, perang menjadi hambatan politik. Mereka saling menghambat dalam tarian yang melelahkan.

Menteri Katz berkata, ”kami akan tinggal tanpa batas.”

Dirjen Baram mengakui, ”kami pikir Teheran. Mereka pikir Taiwan.”

Dua suara dari satu tubuh yang sama. Tidak saling mendengar.

Lalu, Netanyahu keluar dengan pernyataan mengejutkan. Ia ingin menghentikan bantuan AS secara bertahap dalam satu dekade. Bantuan AS, katanya, ”seperti welfare”. Ingin mandiri. Keren.

Di saat yang sama, DPR AS membatalkan voting yang akan memotong 3,3 miliar dolar dana militer untuk Israel. Artinya, Israel ingin melepas tali pusar, tetapi AS dengan lembut berkata, ”tidak, Nak, kamu tetap anakku.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: