Laba Samsung Melonjak Berkat Permintaan AI, Namun Harga Saham Justru Melemah

Laba Samsung Melonjak Berkat Permintaan AI, Namun Harga Saham Justru Melemah

Persaingan Samsung di bidang semikonduktor dalam memproduksi High-Bandwidth Memory mempengaruhi hasil laba di tahun 2026 -Samsung-Samsung.com

HARIAN DISWAY – Samsung Electronics kembali mencatatkan kinerja yang mengesankan di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Perusahaan asal Korea Selatan tersebut memperkirakan laba operasional pada kuartal II 2026 melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dalam laporan yang dirilis Samsung Newsroom pada hari Selasa, 7 Juli 2026, Samsung memperkirakan laba operasional mencapai 89,4 triliun won atau sekitar US$58,4 miliar. Sementara itu, pendapatan perusahaan diproyeksikan menyentuh 171 triliun won, meningkat sekitar 129 persen secara tahunan.

Lonjakan laba tidak lepas dari meningkatnya kebutuhan chip memori berperforma tinggi yang digunakan dalam pengembangan Artificial Intelligence (AI). Permintaan tersebut datang dari perusahaan teknologi global yang terus memperluas kapasitas pusat data untuk mendukung layanan berbasis kecerdasan buatan yang inovatif.

Chip High Bandwidth Memory (HBM) dan DRAM menjadi produk yang paling banyak diburu pasar. Kedua jenis chip tersebut digunakan untuk mendukung pemrosesan data dalam jumlah besar, termasuk AI generatif yang kini berkembang sangat cepat.

BACA JUGA:IHSG Menguat, Arus Modal Asing Masuk, Ini 5 Saham Berpotensi Cuan Hari Ini!

BACA JUGA:Ini Keunggulan Samsung Exynos 2400 di Galaxy S24 dan S24+

Meski mengalami pertumbuhan laba yang luar biasa, respons pasar justru tidak sejalan dengan kabar positif tersebut. Saham Samsung Electronics mengalami penurunan hampir 8 persen setelah perusahaan merilis proyeksi kinerja keuangannya.


Data center AI di Guaian, Cina.-Tao Liang-Getty Images

Pelemahan saham dipicu kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan tren AI. Para investor mulai mempertanyakan apakah investasi besar-besaran pada infrastruktur AI masih akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan atau justru mulai melambat. 

Sebagian analis menilai harga saham Samsung sebelumnya telah mencerminkan optimisme pasar terhadap bisnis AI. Ketika laporan keuangan diumumkan, banyak investor memilih merealisasikan keuntungan melalui aksi taking profit (TP) sehingga menekan pergerakan harga saham.

Selain itu, muncul kekhawatiran bahwa investasi besar-besaran perusahaan teknologi pada infrastruktur AI suatu saat akan melambat. Jika suatu saat belanja pusat data mulai berkurang, maka permintaan chip memori akan ikut mengalami perlambatan.

BACA JUGA:BEI Mau Rilis Daftar Pemegang Saham, Analis: Pasar Transparan atau Jalan untuk Asing?

BACA JUGA:Saham Merah, Pimpinan BEI dan OJK Mundur: OJK Ambil Alih, Pastikan Bursa Tak Terganggu

Di tengah sentimen tersebut, Samsung tetap optimistis terhadap prospek bisnis semikonduktor. Perusahaan meyakini kebutuhan chip AI masih akan tumbuh seiring semakin banyaknya layanan digital yang mengadopsi teknologi kecerdasan buatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: