Piala Dunia sebagai Riwayat Manusia

Piala Dunia sebagai Riwayat Manusia

Ilustrasi opini "Piala Dunia Sebagai Riwayat Manusia" yang ditulis Eri Irawan-Dibuat dengan AI-

Ketika Piala Dunia 2026 segera mencapai pertandingan terakhirnya, selalu ada perasaan yang sama. Rasa gembira karena telah menyaksikan pesta sepak bola terbesar di dunia, tetapi sekaligus rasa sedih karena perayaan itu akan segera usai.

Eduardo Galeano, sastrawan dan penulis tersohor asal Uruguay, menulis bahwa ia selalu merindukan ”perayaan dan juga kesedihan” ketika Piala Dunia berakhir, sebab sepak bola adalah "kesenangan yang menyakitkan".

Musik kemenangan, tulisnya, sering kali terdengar begitu dekat dengan keheningan stadion yang telah kosong, ketika salah seorang yang kalah masih terduduk sendirian, tak mampu beranjak.

Eduardo Galeano meninggal dunia pada 13 April 2015. Sampai akhir hayatnya, dia sudah memanen sekian penghormatan di bidang sastra dan jurnalisme. Namun dia tak pernah bisa mewujudkan mimpinya untuk menjadi pesepak bola yang layak. Keahliannya hanya berkembang pada sekian jam waktu tidurnya.

Kendati demikian, Galeano menulis buku tentang sepak bola yang sangat masyhur, yang sukses menggabungkan keterampilan menulis dengan penafsiran terhadap sepak bola, "Soccer in Sun and Shadow".

Buku itu berisi narasi-narasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan sepak bola: wasit, asal-usul permainan, pemain, manajer, pertandingan, hingga Piala Dunia.

Dalam pandangannya, sepak bola merupakan panggung tempat manusia memperlihatkan kebesaran, kelemahan, kemunafikan, dan harapan mereka.

Dalam artikel-artikelnya tentang Piala Dunia 1930-2010, salah satu kekhasan Galeano adalah menggunakan Piala Dunia untuk menggambarkan perubahan politik, perang, revolusi, penemuan ilmiah, dan pergolakan sosial yang melatari sebuah era.

Galeano mengawali narasi Piala Dunia 1930 dengan gambaran tentang dunia yang sedang dilanda berbagai gejolak. Krisis ekonomi dunia, yang turut dipicu kejatuhan Bursa Saham New York, mengguncang banyak negara. Hanya dalam beberapa hari, kapitalisasi pasar bursa saham tergerus miliaran dolar. Di berbagai belahan dunia terjadi pergolakan politik, perubahan kekuasaan, dan konflik sosial.

Telegram "Menang atau Mati" dari Mussolini

Saat Italia menjadi tuan rumah Piala Dunia 1934, Galeano mengingatkan kembali memori publik tentang masa di mana Hitler sedang mengukuhkan kekuasaannya di Jerman, dan Mussolini memimpin Italia dengan ideologi fasis.

Bagi Mussolini, turnamen ini merupakan sarana propaganda politik. Poster resmi memperlihatkan sosok Hercules memberi salam fasis. Sang diktator menghadiri seluruh pertandingan dan duduk di tribun kehormatan. Para pemain Italia mempersembahkan keberhasilan merebut juara dunia kepada Mussolini.

Empat tahun kemudian, Piala Dunia diselenggarakan di Prancis dalam suasana jelang meletusnya Perang Dunia II. Nazi Jerman memperluas wilayahnya, antisemitisme meningkat, dan berbagai negara bersiap menghadapi konflik besar.

Setelah Jerman menginvasi Austria, sejumlah pemain Austria memperkuat tim nasional Jerman pada Piala Dunia 1938. Dengan simbol-simbol Nazi dan keyakinan akan rasa superior mereka, Jerman tampil percaya diri, namun justru tersingkir oleh Swiss.

Sebuah telegram dari Mussolini yang hanya berisi tiga kata, "menang atau mati", menjelang final melawan Hungaria, membuat para pemain Italia bertarung habis-habisan untuk mempertahankan gelar juara Piala Dunia 1938.

Dalam upacara penutupan setelah mengalahkan Hungaria 4-2, para pemain Italia menampilkan simbol-simbol ala fasisme, dan dipuji media fasis sebagai "kemenangan ras dan ideologi".

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: