Makna Baru Kerja Keras: Saat Dunia Kerja Berubah
ILUSTRASI Makna Baru Kerja Keras: Saat Dunia Kerja Berubah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
TAHUN 2026 bukan tahun yang ringan bagi banyak pekerja di Indonesia. Kabar PHK datang dari berbagai penjuru. Data yang dikutip Antara menunjukkan bahwa hingga 5 Mei 2026, sudah ada 15.425 tenaga kerja yang terkena PHK pada periode Januari–April 2026 dan tercatat sebagai peserta program JKP.
Pada saat yang sama, BPS mencatat jumlah angkatan kerja Indonesia pada Februari 2026 mencapai 154,91 juta orang, naik sekitar 1,86 juta orang bila dibandingkan dengan Februari tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, yang bekerja sekitar 147,67 juta orang, sedangkan tingkat pengangguran terbuka masih berada di angka 4,68 persen.
Angka-angka tersebut memberikan pesan yang cukup kuat: jumlah orang yang siap bekerja terus bertambah, sedangkan dunia kerja tidak selalu mampu menampung mereka dengan cepat.
Dalam keadaan seperti itu, petuah lama tentang kerja keras rasanya perlu ditinjau ulang. Sejak kecil, banyak orang dibesarkan dengan keyakinan sederhana: bila ingin hidup sukses dan berhasil, bekerjalah keras.
BACA JUGA:Tujuh Tahun Kerja Keras, Winter & Giselle AESPA sampai Lupa Rasanya Liburan
BACA JUGA:Butuh Kerja Keras Turunkan Harga Pangan
Petuah itu tidak salah. Bahkan, mungkin tetap akan selalu relevan. Namun, dunia yang menerima kerja keras itu sekarang tidak lagi sama. Yang berubah bukan nilai kerja kerasnya, melainkan medan tempat kerja keras tersebut dijalani.
Dahulu banyak orang merasa bahwa rajin, tahan banting, dan mau bersusah payah adalah bekal yang cukup untuk keberhasilan karier. Jalannya mungkin tidak cepat, tetapi arahnya masih mudah dilihat.
Hari ini suasananya berbeda. Banyak orang tetap rajin, tetap serius, dan tetap mau bekerja keras, tetapi hasilnya tidak otomatis ikut naik. Ada yang sibuk dari pagi sampai malam, tetapi kemajuannya justru tidak terlalu terasa. Ada pula yang sudah mengerahkan semua tenaga, tetapi tetap tertahan di titik yang hampir sama.
Jadi, yang berubah bukan semangat manusianya saja, melainkan medan tempat semangat itu diuji.
Kerja Keras di Dunia yang Berubah
Dalam keadaan seperti itu, gagasan adaptive performance menjadi penting.
Elaine D. Pulakos dan rekan-rekannya dalam artikel Adaptability in the Workplace: Development of a Taxonomy of Adaptive Performance (2000) menjelaskan bahwa dunia kerja modern tidak hanya membutuhkan orang yang rajin, tekun, dan tahan banting, tetapi juga orang yang mampu menyesuaikan diri ketika keadaan berubah, ketika tuntutan baru datang, dan ketika cara-cara lama tidak lagi memadai.
Gagasan itu relevan dengan situasi yang sedang kita hadapi. Kerja keras tetap diperlukan, tetapi ia tidak lagi berdiri sendiri. Ia perlu ditemani kemampuan membaca perubahan dan keberanian untuk menyesuaikan diri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: