Mengapa Banyak Perkara Sepele Berakhir Pembunuhan?: Soal Status Ekonomi
ILUSTRASI Mengapa Banyak Perkara Sepele Berakhir Pembunuhan?: Soal Status Ekonomi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Saat ambulans tiba di rumah duka, keluarga menangis pilu. Darmawan punya seorang istri dan tiga anak. Si sulung sudah menikah. Adiknya kelas X SMA, adiknya lagi kelas I SD.
Saat jenazah Darmawan diturunkan dari ambulans, si bungsu menangis memanggil-manggil sang ayah.
Kades Sidatapa I Made Sutama yang berada di situ mengaku turut sedih saat menyaksikan kejadian tersebut.
Sutama: ”Saya yang menjemput jenazahnya. Saat tiba di rumah, melihat anak-anaknya menangis tersedu-sedu, saya benar-benar sedih, ikut menangis.”
Lain lagi, Minggu, 19 Juli 2026, sekitar pukul 05.45 WIB. Anggota TNI-AD, Prada Arif Budi Sampurna, antre beli sate taican untuk sarapan di kawasan Pondok Hijau Golf, Kelapa Dua, Tangerang. Ia pesan empat bungkus untuk dibawa pulang. Ia berpakaian biasa, bukan dinas.
Di lokasi, beberapa orang antre beli sate yang sama.
Ketika pesanan sudah jadi dan siap diserahkan oleh penjual, ternyata ada pemuda yang mengakui bahwa empat bungkus itu pesanannya. Bukan pesanan Arif.
Kasatreskrim Polres Tangsel AKP Wira Graha Setiawan, kepada wartawan, Minggu, 19 Juli 2026, mengatakan, terjadilah cekcok antara Arif dan pemuda itu. Namun, ternyata pemuda tersebut punya beberapa teman yang ada di situ.
Cekcok tidak seimbang. Arif dikeroyok. Lalu, cekcok berubah jadi perkelahian. Arif dikeroyok sembilan pemuda. Terpaksa ia lari mundur. Ia dikejar sembilan pemuda itu.
Arif di kesatuannya juara lari cepat. Dalam sekejap ia sudah berlari sejauh sekitar 800 meter dari TKP. Para pengejarnya tertinggal jauh.
Namun, para pengejarnya beralih naik motor, beberapa motor, mengejar Arif. Dan, Arif tersusul, dicegat, langsung dikeroyok lagi.
Di TKP kedua, Arif dihujani 10 tikaman pisau. Lima kena bagian depan badan, lainnya di bagian belakang. Arif tewas di tempat. Para pelaku kabur.
Sekitar sejam kemudian, mayat Arif ditemukan warga yang lari pagi. Saat itulah penemu jenazah membuka dompet korban, terdapat KTA anggota TNI-AD.
Polisi menyelidiki. Tujuh pemuda ditetapkan sebagai tersangka, dengan peran berbeda-beda.
Persoalan yang sangat sepele, berakhir pembunuhan. Begitu gampang menghilangkan nyawa orang. Adakah kaitannya dengan kemiskinan mayoritas rakyat sekarang?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: