Inovasi Cerdas Berkelanjutan

Inovasi Cerdas Berkelanjutan

ILUSTRASI Inovasi Cerdas Berkelanjutan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Di negara berpendapatan menengah, kendala untuk melakukan strategi 3i sangat besar, antara lain, kebijakan jangka pendek oleh politisi pada sistem demokrasi dan perburuan rente oleh kalangan elite. Akibatnya, terjadi pergeseran kebijakan dan kinerja ekonomi berada di bawah standar. 

Dutch Disease dan Deindustrialisasi

Adanya uang asing masuk dari berbagai sumber memungkinkan terjadinya dutch disease. Meski jumlah uang tunai asing sangat banyak dan nilai tukarnya bermanfaat bagi negara tersebut, manfaat itu bersifat jangka pendek. 

Dalam jangka panjang, akan terjadi penurunan lapangan pekerjaan, penyusutan sektor manufaktur, penurunan produktivitas negara, dan meningkatnya inflasi.

Istilah dutch disease dikenalkan oleh The Economist tahun 1977 yang menggambarkan pelemahan sektor manufaktur di Belanda setelah ditemukannya sumber gas di Groningen tahun 1959 yang merupakan sumber gas terbesar di Eropa. 

Sektor yang berkembang pesat yang biasanya mengandalkan ekstraksi sumber daya alam atau produksi tanaman komoditas dapat menciptakan pelemahan sektor lainnya seperti manufaktur dan pertanian. 

Tahun 2008–2009 terjadi lonjakan harga komoditas pascakrisis yang membuat Indonesia lebih fokus kepada sektor berbasis komoditas. Industri hilirisasi komoditas tahun itu belum dikembangkan. Pada saat terjadi penurunan harga komoditas tahun 2015, pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan pada 5 persen. 

Sebuah negara yang fokus kepada komoditas akan mengalami deindustrialisasi sehingga tenaga kerja bergeser dari industri bernilai tambah tinggi ke industri bernilai tambah rendah, terjadi pelemahan pertumbuhan PDB per kapita karena hanya industri bernilai tambah tinggi yang mampu mempercepat pertumbuhan PDB per kapita, terjadi kelangkaan produk manufaktur domestik sehingga terjadi  impor yang signifikan.

Berdasarkan data OECD, upaya peningkatan produktivitas per jam akan menciptakan laju pertumbuhan ekonomi yang cepat dan berkelanjutan bila dibandingkan dengan upaya penurunan laju pengangguran dan peningkatan laju partisipasi tenaga kerja. 

Kapasitas sebuah negara untuk meningkatkan produktivitas per jam sangat bergantung kepada kapital intelektual dan teknologi. (*)

*) Satryo Soemantri Brodjonegoro adalah visiting Professor in State & Governance at GRIPS Tokyo dan guru besar emeritus teknik mesin ITB.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: