Kolonialisme Digital Menjajah Indonesia

Kolonialisme Digital Menjajah Indonesia

ILUSTRASI Kolonialisme Digital Menjajah Indonesia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

DALAM peradaban digital, kekuasaan tidak dibangun di atas tanah kosong, tetapi ditegakkan di atas jejaring informasi. Siapa yang menguasai jejaring infrastruktur informasi, merekalah yang menentukan narasi,

menanamkan keyakinan, dan mendikte keputusan kolektif (Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI, Yuval Noah Harari, 2024). 

Harari mengingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) kini tengah merombak fondasi jejaring tersebut secara radikal. Bila di abad ke-19 imperialisme membutuhkan armada kapal perang dan senapan untuk menundukkan

wilayah jajahan, pada abad ke-21 penaklukan berlangsung jauh lebih hening, cukup dengan menguasai infrastruktur digital dan menyedot aliran datanya.

BACA JUGA:Ketika AI Menentukan Isi Piring: Sisi Gelap di Balik Digitalisasi Bansos 2026

 BACA JUGA:Digitalisasi Parkir Kota Surabaya dalam Bingkai Sustainability Development

Tanpa disadari, banyak bangsa di dunia kini tengah bergeser menjadi ”data colony” wilayah koloni data yang kedaulatannya terkikis perlahan dari balik layar kaca.

Dari Pisau Menjadi Birokrat Otonom

Kekeliruan terbesar publik hari ini adalah menganggap AI sekadar perkakas netral, layaknya sebuah palu atau pisau yang tunduk sepenuhnya kepada kehendak pengguna. 

AI bukan lagi sekadar alat (tool), melainkan agen otonom yang bisa menjelma menjadi semacam ”birokrat digital” yang mampu mengingat setiap hukum, melacak jutaan rekam jejak, dan secara mandiri memutuskan nasib manusia. Misalnya, menentukan siapa yang layak menerima pinjaman bank, siapa yang lolos seleksi perguruan tinggi, vonis hukum mana yang pantas dijatuhkan, hingga koordinat mana yang harus disasar dalam operasi militer.

BACA JUGA:Era Digital: Orang Tua Dikerjai AI, Anak Curhat ke AI

BACA JUGA:Dinamika Gen Z Memaknai Ruang Digital: Bukan Generasi Dangkal

Lebih mencemaskan lagi, AI memiliki kemampuan yang belum pernah dimiliki teknologi mana pun sebelumnya, bahkan memproduksi keintiman massal (mass-produced intimacy). 

Algoritma media sosial generasi lama hanya bertarung memperebutkan atensi (waktu layar). Namun, AI generatif mampu mempelajari kerentanan psikologis, riwayat luka pribadi, preferensi emosional, lalu ”menekan tombol batin” kita secara tepat sasaran. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: