Kolonialisme Digital Menjajah Indonesia

Kolonialisme Digital Menjajah Indonesia

ILUSTRASI Kolonialisme Digital Menjajah Indonesia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Ketika entitas asing mampu memanipulasi emosi dan kognisi jutaan warga sekaligus, kedaulatan psikologis, sebuah bangsa sejatinya telah runtuh.

Siklus Kolonialisme Data, Terjadi Pengulangan Tirani Masa Lalu

Apa yang sedang berlangsung hari ini mencerminkan mekanisme kolonial klasik dengan wajah mutakhir, sebagaimana diungkap sosiolog Nick Couldry dan Ulises Mejias dalam konsep data colonialism. 

Polanya berulang melalui siklus: explore, expand, exploit.

BACA JUGA:Era Digital: Generasi Terkoneksi yang Kehilangan Perjumpaan

BACA JUGA:Digitalisasi: Senjata Penguat Kompetensi atau Penghambat Generasi?

Pertama, jelajahi (explore). Kehidupan sehari-hari manusia dijajah atas nama modernitas. Semua ditawarkan secara ”gratis” dengan dalih efisiensi, ditukar dengan satu klik persetujuan pada kolom syarat dan ketentuan (terms and conditions) yang jarang dibaca.

Kedua, perluas (expand). Ekstraksi data meluas ke seluruh sendi sosial. Mulai dompet digital, sistem presensi sekolah, identitas kependudukan, hingga proyek smart city.

Ketiga, eksploitasi (exploit). Semua jejak kehidupan itu disedot keluar negeri untuk diolah di server-server pusat kekaisaran (AS, Tiongkok, dan Uni Eropa).

Di era kolonialisme fisik, bahan mentah negara jajahan diperas. Kapas dikeruk, lalu dikirim ke Eropa, kemudian dipintal menjadi pakaian jadi yang kemudian dijual kembali ke negara asal dengan harga berlipat. Hari ini komoditas mentah itu adalah data perilaku manusia. 

Kita mengekspor interaksi, ketakutan, dan hasrat kita. Dikirim ke Silicon Valley atau Shenzhen. Di sana data mentah tersebut diproses menjadi model kecerdasan buatan, algoritma prediksi, dan sistem kendali, yang kemudian kita impor kembali dengan biaya mahal dan ketergantungan mutlak.

Ilusi Merdeka di Bawah Naungan Digital Empires

Kekaisaran digital modern berdiri di atas simbiosis strategis antara korporasi teknologi raksasa dan negara asal mereka. Perusahaan bertindak sebagai armada ekstraksi dan pembangun infrastruktur. Sementara itu, negara memberikan payung hukum, proteksi geopolitik, dan subsidi riset.

Fenomena itu melahirkan apa yang disebut network effect (efek jejaring yang mengunci). Makin banyak data yang disedot, model AI mereka kian cerdas. Makin cerdas modelnya, makin pintar hingga mustahil bagi inovator lokal untuk bersaing. Modal, talenta terbaik, dan data dari negara berkembang akhirnya tersedot ke satu pusat gravitasi global.

Dampaknya adalah ketergantungan infrastruktur yang rapuh. Saat ini pemerintah, perbankan, rumah sakit, universitas, hingga dapur redaksi media di berbagai belahan dunia beroperasi di atas layanan awan (cloud) dan ekosistem perangkat lunak asing. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: