Peta Jalan Menuju Negara Tangguh: Pelajaran dari Ghost Fleet dan Paradoks Indonesia

Peta Jalan Menuju Negara Tangguh: Pelajaran dari Ghost Fleet dan Paradoks Indonesia

ILUSTRASI Peta Jalan Menuju Negara Tangguh: Berkaca dari Ghost Fleet dan Paradoks Indonesia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Pertama, Indonesia menjadi salah satu negara dengan cadangan mineral kritis terbesar di dunia, terutama nikel yang sangat dibutuhkan dalam industri kendaraan listrik. 

Kedua, posisi Indonesia di jalur Indo-Pasifik menjadikannya simpul logistik internasional. 

Ketiga, bonus demografi memberikan potensi tenaga kerja produktif yang besar apabila mampu dibekali pendidikan, keterampilan digital, dan inovasi. 

Keempat, Indonesia memiliki pasar domestik yang besar sehingga mampu menjadi penyangga ketika permintaan global melemah. 

Kelima, transisi energi dunia membuka ruang bagi Indonesia untuk mengembangkan bioenergi, panas bumi, energi surya, dan hilirisasi mineral untuk industri hijau.

Dengan kombinasi tersebut, Indonesia memiliki peluang menjadi salah satu kekuatan ekonomi utama apabila mampu menghindari jebakan negara pengekspor bahan mentah. 

Namun, peluang tersebut dibayangi berbagai tantangan serius. Produktivitas industri manufaktur masih tertinggal bila dibandingkan dengan sejumlah negara Asia.

Ketergantungan terhadap impor komponen teknologi masih tinggi. Belanja riset nasional relatif rendah jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Ketahanan pangan menghadapi tekanan perubahan iklim. 

Sementara itu, persaingan geopolitik dapat memaksa negara-negara berkembang memilih blok tertentu apabila tidak memiliki posisi tawar yang memadai. Dalam kondisi demikian, Indonesia memerlukan strategi yang jauh lebih komprehensif daripada sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Agenda Strategis Menuju Bangsa Mandiri

Apabila pelajaran dari Paradoks Indonesia dan Ghost Fleet dipadukan, terdapat sedikitnya tujuh agenda strategis yang perlu menjadi prioritas nasional. 

Pertama, mempercepat industrialisasi berbasis hilirisasi sehingga ekspor Indonesia didominasi oleh produk bernilai tambah tinggi.

Kedua, membangun ekosistem riset, inovasi, kecerdasan buatan, dan semikonduktor sebagai fondasi daya saing masa depan.

Ketiga, memperkuat swasembada pangan melalui modernisasi pertanian, irigasi, benih unggul, mekanisasi, dan digitalisasi sektor pertanian.

Keempat, mempercepat transisi menuju kemandirian energi melalui pengembangan energi baru dan terbarukan, biofuel, panas bumi, serta optimalisasi gas domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: