Peta Jalan Menuju Negara Tangguh: Pelajaran dari Ghost Fleet dan Paradoks Indonesia

Peta Jalan Menuju Negara Tangguh: Pelajaran dari Ghost Fleet dan Paradoks Indonesia

ILUSTRASI Peta Jalan Menuju Negara Tangguh: Berkaca dari Ghost Fleet dan Paradoks Indonesia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Kelima, meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, penguasaan STEM, serta pengembangan talenta digital.

Keenam, memperkuat diplomasi ekonomi yang bersifat bebas aktif sehingga Indonesia mampu bekerja sama dengan seluruh kekuatan dunia tanpa kehilangan independensi strategis.

Ketujuh, membangun ketahanan siber, keamanan data nasional, serta industri pertahanan yang mampu menopang kebutuhan domestik.

Agenda tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan negara dalam menghadapi tekanan geopolitik jangka panjang.

Paradoks Indonesia dan Ghost Fleet sesungguhnya berbicara mengenai persoalan yang sama: masa depan sebuah bangsa ditentukan kemampuannya membangun kemandirian strategis sebelum krisis datang. 

Prabowo mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh terus hidup dalam paradoks sebagai negara kaya yang bergantung kepada bangsa lain. Sementara itu, Ghost Fleet mengingatkan bahwa dalam dunia yang makin kompleks, ketergantungan dapat berubah menjadi titik lemah yang dimanfaatkan pihak lain tanpa harus melepaskan satu pun tembakan.

Di tengah dunia yang makin terfragmentasi, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar besar atau pemasok bahan mentah global. 

Indonesia harus naik kelas menjadi negara yang menguasai teknologi, memperkuat industri nasional, membangun ketahanan pangan dan energi, serta memanfaatkan kekayaan alam sebagai modal industrialisasi yang berkeadilan.

Pada akhirnya, ukuran sejati sebuah bangsa bukan hanya besarnya cadangan sumber daya alam yang dimiliki, melainkan juga kemampuan mengubah seluruh potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi, teknologi, dan politik yang memperkokoh persatuan nasional. 

Dalam dunia yang makin tidak pasti, kemandirian bukan lagi sekadar pilihan kebijakan, melainkan juga prasyarat utama bagi keberlangsungan sebuah negara. (*)

*) Sukarijanto adalah pemerhati kebijakan publik dan peneliti di Institute of Global Research for Economics, Entrepreneurship, & Leadership dan kandidat doktor di Universitas Airlangga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: