Ketika Pagar Menjadi Bahasa Kota, Selamat Datang, Arsitektur Ketakutan!

Ketika Pagar Menjadi Bahasa Kota, Selamat Datang, Arsitektur Ketakutan!

ILUSTRASI Ketika Pagar Menjadi Bahasa Kota, Selamat Datang, Arsitektur Ketakutan!-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

BEBERAPA HARI terakhir saya memperhatikan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah menarik perhatian saya. Sejumlah pusat perbelanjaan mulai memasang pagar besi yang tinggi mengelilingi kawasan mereka. 

Sebagian orang menghubungkannya dengan isu keamanan. Sebagian lagi menganggapnya sebagai standar baru pengelolaan kawasan komersial.

Terus terang, saya tidak terlalu tertarik memperdebatkan alasan teknis di balik pemasangan pagar itu. Apakah benar karena antisipasi kerusuhan, peningkatan standar keamanan, atau sekedar kebijakan pengelola masing-masing, biarlah menjadi penjelasan mereka. 

Yang jauh lebih menarik bagi saya adalah pertanyaan yang lebih besar, ”mengapa pagar tiba-tiba menjadi bahasa yang makin sering digunakan oleh kota-kota kita?”

BACA JUGA:Menko Polkam Pastikan Pagar di Sejumlah Mal Tak Berkaitan dengan Isu Demo Agustus

BACA JUGA:Fadil Imran Soal Pagar Mal: Orang Pagari Rumah Kan Biasa, Jangan Dikaitkan Dengan Kerusuhan

Fenomena itu mengingatkan kita bahwa arsitektur sesungguhnya tidak pernah netral. Bangunan bukan hanya hasil kreativitas para arsitek, melainkan juga cermin dari cara sebuah masyarakat memandang dirinya sendiri. 

Ketika sebuah kota merasa optimistis, ia membangun taman, plaza, trotoar, dan ruang terbuka yang mengundang orang datang. Namun, ketika rasa aman mulai menjadi perhatian utama, bahasa arsitektur pun berubah. Dinding ditinggikan. Gerbang dipersempit. Kamera diperbanyak. Akses dibatasi. Pagar menjadi makin kokoh.

Dalam kajian perkotaan dikenal istilah ”architecture of fear”, yakni arsitektur yang dibentuk oleh persepsi terhadap ancaman. Konsep itu tidak selalu berarti sebuah kota sedang berada dalam bahaya. 

Ia justru menjelaskan bagaimana kekhawatiran terhadap risiko, baik kriminalitas, vandalisme, terorisme, maupun gangguan keamanan lainnya, memengaruhi cara ruang publik dirancang dan dikelola. 

BACA JUGA:Sosiolog Soal Pemasangan Pagar di Mal: Bukan Solusi Hadapi Kerusuhan

BACA JUGA:Bukan Karena Kerusuhan, Ini Alasan Pemilik Mal Mulai Pasang Pagar Tinggi

Dengan kata lain, bukan ancamannya yang selalu berubah terlebih dahulu, melainkan persepsi terhadap ancaman itulah yang mulai membentuk desain kota.

Kalau kita jujur mengamati, gejalanya sebenarnya telah lama terjadi di sekitar kita. Rumah-rumah dibangun dengan pagar yang kian tinggi. Perumahan menerapkan sistem satu gerbang. Kompleks perkantoran dipenuhi portal. Sekolah memasang akses terbatas. Kampus memperketat pintu masuk. Kamera pengawas dipasang di hampir setiap sudut. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: