China Plus One

China Plus One

ILUSTRASI China Plus One.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

China plus one (C+1) adalah strategi diversifikasi risiko dan ketahanan rantai pasok global. Korporasi transnasional mempertahankan basis produksi manufaktur utama mereka pada negara tempat asal, tapi sekaligus membangun kapasitas manufaktur paralel di satu atau beberapa negara lain. 

Negara tempat asal yang dimaksud adalah Tiongkok. Dalam hal ini, Tiongkok tetap menjadi node utama. Namun, korporasi Tiongkok itu membangun node produksi manufaktur tambahan di negara lain untuk mengurangi konsentrasi risiko. 

Jadi, C+1 bukanlah decoupling. Namun, de-risking melalui diversifikasi geografis. Tiongkok tetap menjadi pusat produksi manufaktur dan pemasok intermediate goods. Negara-negara lain menjadi node produksi tambahan, node konsumsi baru, dan instrumen menghadapi risiko dan dinamika geopolitik dan geoekonomi global.

Istilah C+1 kali pertama muncul ketika biaya tenaga kerja dan biaya operasional di Tiongkok mulai naik. Korporasi tekstil dan barang konsumen berbiaya rendah mulai mencari lokasi produksi manufaktur sekunder di berbagai belahan dunia.

BACA JUGA:Senat AS Sahkan RUU Sanksi Ekonomi: Rusia, China dan India Terancam Tarif 100 Persen

BACA JUGA:Imigrasi Surabaya dan Polresta Sidoarjo Bongkar Sindikat WNA China dan Vietnam, 15 Orang Ditangkap

Keberadaan C+1 untuk saat ini dirasakan masih tetap relevan, bahkan urgen. Terutama karena eskalasi proteksionisme dan ketegangan hubungan dagang Amerika Serikat (AS)-Tiongkok. 

Kondisi itu telah meniscayakan kewajiban korporasi produksi manufaktur memiliki fleksibilitas lokasi. Tujuannya, tidak terkena dampak tarif penalti yang merusak margin.

Selanjutnya, krisis rantai pasok pascapandemi dan pascakonflik geopolitik global telah membuktikan, ketergantungan tunggal pada satu negara berisiko fatal bagi kelangsungan operasional korporasi. 

Begitu juga dengan perkembangan ketika negara-negara tujuan ekspor utama memberlakukan verifikasi ketat terhadap beragam komponen produksi. Dengan demikian, korporasi dipaksa melakukan perakitan akhir atau diversifikasi komponen di negara lain.

BACA JUGA:Waspada Modus Baru Kejahatan Digital Lewat Link Palsu Drama China

BACA JUGA:Bea Cukai Temukan Barang Ilegal China di Jalur Merah Tanjung Perak

Jika dicermati, C+1 era sekarang memiliki setidaknya tiga karakteristik utama.

Karakteristik pertama, korporasi tidak meninggalkan Tiongkok. Tapi, membagi peran. Tiongkok tetap menjadi pusat riset dan pengembangan, komponen kompleks, dan pasar domestik. Sementara itu, negara-negara +1 menjadi pusat perakitan akhir atau produksi volume besar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: