Motif Pembunuhan Bocah di Cilegon Terungkap di Sidang: Akibat Main Kripto
ILUSTRASI Motif Pembunuhan Bocah di Cilegon Terungkap di Sidang: Akibat Main Kripto.-Arya/AI-Harian Disway-
James Banks dalam bukunya, Gambling, Crime and Society (Palgrave Macmillan, 2017), mengulas teori tentang hal itu.
Berdasar kriminologis dan psikologis, kegiatan spekulasi berisiko tinggi (seperti perdagangan kripto) memiliki pola adiksi dan desakan finansial yang identik dengan judi patologis (pathological gambling).
Buku itu menelaah keterkaitan kompleks antara spekulasi finansial (atau perjudian), kondisi psikologis pelaku, dan kejahatan yang dipicu oleh keputusasaan ekonomi.
James Banks membedah bagaimana aktivitas spekulatif yang berujung pada kerugian drastis dapat mengubah seseorang yang tadinya warga biasa menjadi pelaku kejahatan serius.
BACA JUGA:Misteri Pembunuhan Bocah 9 Tahun di Cilegon: Diduga Bukan Perampokan
Dijelaskan bahwa individu yang terjebak dalam spekulasi tinggi mengalami fenomena psikologis yang disebut chasing losses. Itu dorongan impulsif untuk terus bertaruh dan bertaruh lagi atau berspekulasi demi mengembalikan uang yang hilang.
Ketika sumber dana legal (tabungan, aset, pinjaman resmi) telah habis, spekulan kerap beralih ke lembaga pinjaman berisiko tinggi atau ilegal.
Beban bunga yang membengkak dan tekanan dari penagih utang menciptakan tekanan mental ekstrem.
Dalam kriminologi tradisional, kejahatan akibat utang spekulatif sering kali dimulai dari non-violent financial crimes, seperti penipuan, penggelapan, atau pencurian aset keluarga.
Namun, Banks menggarisbawahi bahwa ketika jalur kejahatan halus tersebut tertutup atau tidak lagi cukup untuk membayar utang yang jatuh tempo seketika, kondisi psikologis pelaku bergeser ke fase keputusasaan.
Dalam fase ini, mekanisme kontrol diri runtuh. Pelaku mengalami disosiasi moral dan penyempitan kognitif (cognitive tunneling). Ia hanya fokus pada satu tujuan: mendapatkan uang tunai secepatnya untuk bertahan hidup atau menghindari ancaman penagih utang.
Hal itulah yang mendorong transisi drastis menuju kejahatan jalanan berefek tinggi seperti perampokan bersenjata atau aksi kekerasan fatal.
Buku itu mengutip teori ketegangan umum karya Robert Agnew untuk menjelaskan psikologis pelaku.
Ketidakmampuan pelaku mencapai tujuan finansial, dikombinasikan dengan hilangnya stimulasi positif dan hadirnya ancaman tekanan eksternal (penagih utang), menghasilkan emosi negatif yang kuat. Misalnya, ketakutan, kecemasan akut, dan kemarahan.
Kejahatan menjadi cara pelaku meredakan ketegangan ekstrem tersebut. Meskipun, ia paham harus menanggung risiko pidana yang sangat besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: