Berani Ambil Risiko, Belajar dari Duel Legendaris Miyamoto Musashi vs Sasaki Kojiro

Berani Ambil Risiko, Belajar dari Duel Legendaris Miyamoto Musashi vs Sasaki Kojiro

Ilustrasi duel Miyamoto Musashi dan Kojiro, duel yang mengandung pelajaran hidup tentang keberanian mengambil risiko.-Recovering Overthinker-Existential Espresso

Pada 1612, Musashi sudah cukup dikenal di kalangan penggemar bela diri Jepang. Namun, reputasinya masih sebagai pendekar pengembara. Sosok misterius. Bukan tokoh besar yang dikenal luas.

Meski telah bertarung dan memenangkan sekitar 60 duel, tidak banyak yang mengetahui gaya bertarungnya. Juga garis perguruan Musashi.

Kondisi tersebut sangat berbeda dengan Kojiro. Ia saat itu telah menjadi salah satu pendekar pedang. Namanya dihormati di Jepang.

BACA JUGA:Hari Filsafat Sedunia 20 November 2025, Memahami Pentingnya Filsafat bagi Anak Muda

BACA JUGA:Reza Rahadian Buat Karya Seni Eudaimonia di ARTJOG 2025, Terinspirasi dari Filsafat Yunani Kuno

Kojiro memiliki garis perguruan yang dianggap sempurna. Memiliki guru-guru yang terkenal. Ia juga menciptakan gaya bertarung sendiri.

Kojiro menerapkan disiplin dalam latihan. Hingga mendapat kepercayaan klan Hosokawa. Serta diizinkan mendirikan sekolah di Kokura.

Kojiro bahkan berpeluang menjadi instruktur pedang resmi bagi klan tersebut. Ia sangat menghormati pedang dan teknik.

Ia pun menguasai berbagai aspek tradisional budaya pedang. Itu membuatnya menjadi inspirasi. Baik bagi banyak murid maupun pendekar di Jepang.

BACA JUGA:Ketidakpastian Dunia dan Isinya: Perspektif Filsafat Agama

BACA JUGA:Program Makanan Bergizi; Perspektif Filsafat Marxisme dalam Kebijakan Pangan

Hingga ia melawan Musashi. Lawannya itu terlambat beberapa jam ke lokasi duel. Di tangannya membawa pedang kayu panjang. 

Bagi Kojiro yang menjunjung tinggi tradisi, tindakan tersebut merupakan penghinaan. Karena ia harus menunggu. Lantas lawannya tidak membawa pedang sungguhan.

Padahal, pedang Kojiro disebut sebagai mahakarya senjata berusia 300 tahun. Ketika akhirnya turun dari perahu, Musashi mengambil sapu tangan.

Ia mengikatnya di kepala. Dengan simpul di tengah dahi. Seperti hachimaki, ikat kepala tradisional Jepang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: existential espresso